Jumlah Korban Perlintasan KA Jatim Naik 21 Persen

Jumlah Korban Perlintaan KA Jatim Naik 21 Persen

Jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan di perlintasan kereta api (KA) di Jatim mengalami peningkatan. Berdasar data di Ditlantas Polda Jatim, hingga Nopember 2013, jumlahnya 17 orang. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun lalu (2012), yaitu berjumlah 14 orang atau sekitar 21 persen.

Sementara untuk jumlah kecelakaan sendiri mengalami penurunan mencapai 5 persen dibanding tahun lalu. “Tahun lalu sebanyak 22 kejadian, dan tahun ini menurun menjadi 21 kejadian,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono, Selasa (10/12/2013).

Untuk jumlah korban meninggal dunia terbanyak di wilayah hukum Polres Jember. Dimana dalam 6 kali kejadian kecelakaan, merenggut 4 korban jiwa.
Sedangkan Polres Mojokerto Kota menduduki ranking kedua terhadap korban yang tewas, yaitu 3 orang dari satu peristiwa kecelakaan.

Awi menegaskan, pihaknya berupaya untuk meminimalisir angka kecelakaan terutama di sekitar perlintasan KA akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait.

“Kejadian di Bintaro Jakarta sangat memprihatinkan. Polisi Lalu Lintas akan koordinasi dengan dinas terkait misalnya PT KAI, Pemda, Dishub setempat.
Koordinasi tersebut terkait pemasangan rambu-rambu jelang perlintasan. Dan berikan bimbingan bagi setiap masyarakat,” kata mantan Wadirlantas Polda Jatim ini.

Bimbingan tersebut diberikan bisa dengan jalan diberikan kepada masyarakat mulai dari pemohon Surat Ijin Mengemudi (SIM) baru.

Ditambahkannya, jika terkait pos polisi dan penempatan personel di sekitar perlintasan KA dalam waktu dekat ini belum bisa terealisasi.

“Anggota kita tidak banyak jumlahnya. Kita coba koordinasikan dengan instansi terkait, misalkan dengan melibatkan pam swakarsa untuk bisa membantu,” jelasnya.

Mengacu pada UU RI Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan pada 296 diterangkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor pada perlintasan antara KA dan jalan yang tidak berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu KA sudah mulai ditutup, dan/atau ada isyarat dan sebagaimana dimaksud dalam pasall 114 huruf a dipidana dengan pidana kurungan paling lama 3 bulan/denda paling banyak Rp 750 ribu.

“Selama ini palang pintu bukan sebagai rambu, tapi alat pengaman,” ujarnya.(wh)