Jumlah Kebakaran Surabaya Turun, tapi Tetap Harus Waspada

Jumlah Kebakaran Surabaya Turun, tapi Tetap Harus Waspada

Kresnayana Yahya dan Dedik Irianto .foto:arya wiraraja/enciety.co

Problem kebakaran masih menjadi ancaman yang harus diwaspadai di Surabaya. Hal itu diungkapkan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue Radio Suara Surabaya, Jumat (14/8/2020).

Dia lalu membeberkan hasil survei. Di mana, daerah pemukiman di Surabaya memiliki tingkat kerentanan terjadinya kebakaran dengan  prosentase sekitar 67,7 persen. Daerah industri, dan pergudangan dengan prosentase  8,2 persen. Daerah perdagangan  5,9 persen. Selanjutnya ada daerah ruang terbuka hijau (RTH) 5,9 persen. Disusul fasilitas umum 4,28 persen dan daerah lainnya sekitar 8,15 persen.

“Angka-angka tersebut mau menggambarkan jika kita harus lebih waspada terhadap bahaya kebakaran. Terlebih di era pandemi seperti sekarang ini, masyarakat banyak yang beraktivitas di rumah dengan menggunakan peralatan elektronik. Untuk itu kita hendaknya dapat lebih waspada terhadap kejadian yang tidak diinginkan,” ujar Kresnayana.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, terang dia, banyak cara dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Di antaranya dengan membangun 400 sumur atau tandon yang terhubung dengan PDAM pada tahun 2019.

Zona tandon ini dibagi tiga, yaitu, zona satu yang merupakan daerah yang sumber airnya kecil. Zona dua, daerah yang akses masuknya sempit. Zona  tiga, mencakup wilayah dengan perambatan api yang cepat, terutama pada kawasan permukiman yang bangunannya non permanen dan terbuat dari kayu.

Data terakhir, kebakaran terjadi akibat api terbuka seperti korek api, kompor, dan lilin sebanyak 248 kasus. Penyebab lainnya adalah listrik ada 78 kasus. Kasus kebakaran yang masih dalam penyelidikan 244 kasus.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Surabaya Dedik Irianto menjelaskan, pada tahun 2019, tercatat kerugian material mencapai Rp 12,3 miliar. Di tahun yang sama ada 137 kejadian kebakaran.

“Di tahun 2020 sampai dengan bulan Agustus ini hanya sekitar 23 kejadian. Terakhir di daerah Kenjeran di Jalan Pasar Siap, lebih tepatnya dibelakang SPBU Jalan Kenjeran. Ada dua rumah yang terbakar,” tutur dia.

Penurunan ini di antaranya dikarenakan ada gerakan stay at home pada saat pandemi Covid-19 ini. Nah, mungkin ini salah satu sisi positif dari pandemi. Namun, penurunan ini kebanyakan dikarenakan semakin tinggi kesadaran dan pencegahan kebakaran dari masyarakat Kota Surabaya yang makin tinggi.

“Di 2020 ini, penyebab kebakaran kebanyakan lebih banyak dari api terbuka atau api pembakaran dari sampah, kelalaian di dapur dan konsleting listrik,” paparnya.

Untuk menanggulangi kebakaran yang terjadi di Surabaya, imbuh Dedi, pihaknya memiliki mobil Damkar Bronto skylift dengan ketinggian jangkauan 104 meter 1 unit, bronto skylift dengan jangkauan 55 meter sebanyak 2 unit dan bronto skylift 42 meter sebanyak 1 unit.

Selain bronto skylift, Damkar Kota Surabaya juga memiliki unit walang kadung yang dapat menjangkau ke pemukiman padat penduduk. Sedangkan, untuk selang yang digunakan standar dengan panjang selang 20 meter yang nantinya akan disambung sesuai dengan kebutuhan.

“Mobil ini bukan hanya dapat menjangkau gedung-gedung tinggi yang ada di Surabaya. Bronto skylift ini juga digunakan untuk kepentingan evakuasi korban. Karena yang paling penting adalah menyelamatkan korban jiwa, baru kita berfikir material,” ujarnya.

Terkait teknis penanggulangan kebakaran Damkar Surabaya membagi tugas teknis tim Damkar menjadi beberapa kelompok. “Saat teknis penanggulangan, ada tim evakuasi korban, ada tim pemadam api, ada tim suplai air. Jadi, jika ada kejadian kebakaran tim kita turun penuh. Harapannya, kita dapat menyelamatkan korban dan menanggulangi kejadian secepatnya,” cetusnya. (wh)