Jumlah Insinyur Indonesia Kalah Jauh dengan Singapura

Jumlah Insinyur Indonesia Kalah Jauh dengan Singapura

Gelar Insinyur di Indonesia ternyata masih kalah jauh dengan Negara Association South of East Asian Nation (ASEAN). Dari data yang ada, Indonesia hanya ada 3.038 insinyur, kalah jauh dari Singapura yang mencapai 28.235 orang per satu juta penduduk.

Tak hanya itu saja, program keinsinyuran juga ternyata perlu diperbaiki untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun nanti.

Ha ini disampaikan Sekretaris Ekesekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur Ali Yusa, yang mengakui bila per satu juta penduduk untuk insinyur masih paling rendah dari Negara ASEAN.

“Untuk menghadapi MEA nanti dan supaya Indonesia tidak tertindas insiyur asing, maka tenaga insinyur harus ditambah,” tegasnya kepada wartawan.

Program keinsinyuran ini sendiri telah berakhir pada tahun 1994/1995. Jadi lulusannya yang terakhir ya sekitar tahun 2000-an. Apabila mengacu pada UU no 11 tahun 2014 tentang keinsinyuran, untuk mendapatkan gelar insinyur ini harus sudah bekerja dibidangnya selama tiga tahun.

Profesi insinyur sendiri berubah menjadi gelar ST (Sarjana Teknik) usai tahun 1996 dan tanpa magang. Hal itu membuat jumlah SKS (Sistem Kredit Semester) menjadi berkurang dari gelar Ir ke gelar ST.

Karena itu, PII mengadakan sosialisasi tentang program keinsinyuran serta insentif pemerintah sebesar Rp 100 juta per tahun untuk insinyur.

“Rencananya kami mengadakan sosialisasi itu untuk menumbuhkan kembali kejayaan insinyur di Indonesia,” papar dia. (wh)