Jualan di Facebook, Diah Cookies Raup Omzet Puluhan Juta Rupiah

Jualan di Facebook, Diah Cookies Raup Omzet Puluhan Juta Rupiah

Diah Arfianti, owner UKM Diah Cookies, ketika di bengkel produksi di Jalan Ketandan Baru II Surabaya, Rabu (5/10/2016). foto: arya wiraraja/enciety.co

Kerja keras, ulet, cermat membaca peluang. Itulah salah satu syarat menjadi pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang ingin meraup hasil maksimal. Seperti yang dilakukan Diah Arfianti, owner Diah Cookies. Berbekal keuletan, ibu tiga orang anak ini mampu mendulang jutaan rupiah dari menjual kue kering. Baik penjualan dengan cara konvensional maupun lewat dunia maya.

Hasil yang digapai saat ini bisa jadi karena kondisi yang memaksa untuk bertindak. Tepat pada tahun 2010, ia nyaris putus asa. Gara-garanya, suaminya di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja.

“Saat itu saya sangat bingung cari pemasukan agar mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Lalu dengan modal seadanya yang jumlahnya hanya Rp 500 ribu, saya juala kue kering,” urai dia ditemui di bengkel produksi yang sekaligus menjadi rumah dan tokonya di Jalan Ketandan Baru II, Surabaya, Rabu (5/10/2016).

Awal merintis, Diah sempat tidak yakin apakah produk kue keringnya bisa laku. Apalagi produk yang dibuatnya banyak dijual di pasaran. Variannya juga sangat beragam.

Namun Diah nekat saja. Karena dia yakin rezeki bisa datang dari arah mana saja. Yang berusahan dan terus berusaha. Tidak ada salahnya untuk mencoba.

Langkah pertama yang dilakukan Diah adalah menitipkan kue keringnya di beberapa toko di kawasan Ketandan. Selain itu, dia juga menawari kawan-kawan lamanya lewat WA dan BBM.

Namanya usaha, ada yang laku, ada juga yang kembali. Diah menginsyafi hal itu sebagai sebuah proses yang harus dilakukan. Paling tidak, ia juga banyak mendapat masukan terkait keu kering yang dibuatnya.

Hasil yang diperoleh dari penjualan kue kering ia kumpulkan, sebagian dipakai untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, sebagian dipakai untuk biaya produksi. Jika memang ada uang lebih, Diah harus berhemat dengan cara menabungnya.

Usaha terus berjalan. Diah sadar, ada momen-momen bagus untuk menggenjot produksi. Di antaranya Hari Raya Idul Fitri, perayaan Natal dan Tahun Baru.

Benar saja, penjualan kuenya meningkat pada momen-momen tersebut. Yang menggembirakan lagi, di luar hari besar itu, pembeli kuenya mulai bertambah, berikut juga pesanan. “Saya bersyukur, ternyata kue kering tiap hari ada saja yang beli,” cetus dia.

Diah menuturkan, agar mendapat hasil lebih besar ia harus masuk pasar kelas menengah atas. Ia lantas menawarkan ke beberapa instansi dan ada juga yang mau membeli.

“Saat ini saya punya beberapa langganan dari beberapa kantor di Surabaya. Di antaranya Bank Mandiri Pondok Tjandra, Bank Mandiri Basuki Rachmad dan lain sebagainya,” terang dia.