Jual Kue Bulan untuk Lestarikan Tradisi Tionghoa

Jual Kue Bulan untuk Lestarikan Tradisi Tionghoa
Kue bulan yang lari manis dijual jelang Imlek.

Jelang Imlek 2565 yang diperingati pada 31 Januari mendatang, pembuat kue bulan (kue keranjang) banyak yang meraup untung. Mulai dari restoran hotel bintang lima hingga pembuat kue rumahan menjajakan pangganan khas ini.

Kue keranjang memiliki filosofi merekatkan persaudaraan dan kesuksesan pada tahun mendatang. Hal itu diwujudkan lewat cita rasanya yang manis dan lengket.

Seperti yang dilakukan Tjio Giok Hong, warga Karang Asem XV, Surabaya, salah satu pembuat kue bulan. Kata dia, membuat kue ini merupakan usaha melestarikan tradisi Tionghoa yang makin lama sudah ditinggalkan masyarakat.

“Tanpa adanya kue bulan, bisa dibilang bagi warga Tionghoa perayaan Imlek tersa kurang sakral,” ucapnya, Rabu (22/1/2014).

Tjio tidak sendirian dalam mengerjakan kue bulan tersebut. Dia dibantu sepuluh pegawainya. Tjio setiap harinya bisa menghasilkan ratusan kue bulan. “Setiap hari kami bisa menghabiskan satu ton tepung,” paparnya.

Kue bulan bikinannya terdiri dari empat macam rasa, yaitu pandan, coklat, karamel dan jeruk. Diceritakannya, dulu dia biasa menjajakan kue tersebut dari rumah ke rumah sejak tahun 1986. Kini, sudah banyak toko yang memesan kuenya.

Tjio mnegaku beryukur karena dengan membuat kue keranjang dia bisa melestarikan tradisi Tionghoa. Apalagi, kini banyak anak muda yang mulai melupakan tradisi makan kue keranjang pada saat perayaan imlek. “Semoga tetap ada yang melestarikan tradisi agar tidak punah,” pungkasnya tersenyum.(wh)