Jokowi, Presiden dari Bantaran Sungai

 

Jokowi, Presiden dari Bantaran Sungai

Sejarah Indonesia resmi mencatat Joko Widodo (Jokowi) menjadi Presiden ke-7 atau presiden ke-3 yang dipilih langsung oleh rakyat setelah dilantik di MPR, Senin (20/10/2014).  Pria 53 tahun yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha mebel sebelum terjun ke dunia politik itu pernah menjabat sebagai Wali Kota Surakarta selama dua periode sejak 2005 dan menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2012.

Melalui proses panjang Pemilu 2014, Jokowi bersama Jusuf Kalla (JK) yang didukung PDI Perjuangan (PDIP), Nasdem, PKB, Hanura, dan PKPI itu ditetapkan KPU meraih suara terbanyak dengan 70.997.833 suara atau 53,15 persen mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara atau 46,85 persen.

Hasil dari KPU tersebut telah dikukuhkan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 21 Agustus 2014. Banyak pihak menilai Jokowi memiliki keunggulan dalam segi kesederhanaan.

Sikap apa adanya yang alami bahkan komunikatif dengan rakyat kecil melalui metode blusukannya dianggap sebagai senjata ampuh Jokowi untuk memenangkan pemilu.

Dalam kampanyenya, Jokowi kerap meneriakan slogan “Revolusi Mental” untuk membangun bangsa jika nantinya diberi amanah oleh rakyat sebagai presiden. Bahkan, dia membuka kerja sama dengan parpol-parpol yang berseberangan dengannya dalam pilpres asal tidak transaksional.

Sedangkan program ekonomi yang dikedepankannya adalah pemerataan selain pertumbuhan. Alasannya, hanya pemerataan yang dapat mempersempit jurang antara si miskin dengan si kaya sekaligus melunturkan stigma yang menyebut si kaya semakin kaya sedangkan yang miskin terus miskin pada era sekarang ini.

Hal itu diungkapkan Jokowi sewaktu mudik ke Solo pada 25-27 Juli 2014, ketika menjawab pertanyaan wartawan mengenai langkah apa yang bakal dilakukannya sebagai presiden untuk mensejahterakan rakyat mengingat dirinya datang dari keluarga yang sangat sederhana. “Paling penting di bidang ekonomi adalah pemerataan. Tidak hanya pertumbuhan tapi juga pemerataan. Juga kebutuhan dasar yaitu pendidikan dan kesehatan,” kata Jokowi.

Pada kesempatan tersebut Jokowi juga sempat menyinggung kalau dirinya tidak pernah bermimpi bakal menjadi presiden. Dirinya hanya bocah biasa yang lahir di bantaran sungai. Hidupnya terlalu susah untuk bermimpi menjadi kepala negara dan kepala pemerintah Indonesia.

“Kita lahir di bantaran sungai, kita sudah merasakan bagaimana tidak enaknya hidup susah. Dan saya kira semua orang miskin atau kaya boleh-boleh saja punya mimpi jadi wali kota, gubernur atau malah presiden. Tapi kalau saya benar-benar tidak pernah bermimpi jadi wali kota, gubernur atau presiden,” katanya.

Ternyata takdir berbicara lain, Jokowi yang dulu tinggal di bantaran sungai dalam hitungan jam bakal tinggal di Istana Merdeka memimpin negeri ini. Segala tantangan bangsa yang menumpuk di depan harus dihadapi dan diselesaikan.

Publik menunggu segala program atau visi-misinya untuk membawa bangsa ke arah lebih baik termasuk mengimplementasikan konsep Trisakti milik Presiden ke-1 Bung Karno yakni, berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.  (bst/ram)