Johan Silas: Trem Lebih Aman Dibanding Bus

Johan Silas: Trem Lebih Aman Dibanding Bus
Johan Silas memberikan keterangan pres di Graha Sawunggalaing, Surabaya, Kamis (23/10/2014).

Sejumlah pakar tata kota menilai program Angkutan Massal Cepat (AMC) trem Surabaya dirasa sangat tepat dan lebih aman dibanding dengan moda transportasi bus.

Ini dikatakan oleh Tokoh Arsitektur Indonesia sekaligus Guru Besar Tata Kota dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Johan Silas.

“Trem itu sama dengan bus, bahkan dibandingkan dengan bus, trem lebih baik,” tegas Johan Silas sesaat setelah menghadiri agenda Pemkot Surabaya di Graha Sawunggaling, Kamis (23/10/2014).

Menurut Johan, soal keamanan trem justru lebih baik dibanding dengan moda transportasi lainnya. Ini karena trem berjalan di jalur yang sudah disediakan dan tidak akan bisa main serobot atau bahkan ngetem layaknya bis.

“Soal keamanan dengan pengguna kendaraan pribadi, trem justru lebih aman. Trem nggak mungkin mepet-mepet kendaraan lain. Justru kalau bis itu iya. Saya tadi hampir saja kecelakaan karena dipepet oleh bis, kalau trem kan nggak bisa mepet,” katanya.

Pria yang meraih sejumlah penghargaan internasional sebagai pakar tata kota itu menjelaskan, trem di Surabaya nanti akan difokuskan untuk mengurai kemacetan kota. Karena itu, pihaknya sebagai tim ahli Pemkot Surabaya telah memberi masukan untuk membuat dua jalur dari Utara hingga Selatan Kota Surabaya.

“Trem itu kan nantinya panjangnya sekitar dua gerbong atau dua puluh meter, sedangkan lebarnya tidak lebih lebar dari bis. Nanti kalau penumpangnya banyak, frekuensinya juga tinggi, sekitar lima menit sekali akan datang,” jelasnya.

Karena itu, Johan menjamin bahwa nanti jika sudah dioperasikan, moda transportasi trem akan lebih aman. “Kesalahan masyarakat menilai bahwa trem itu kereta api kecil, bukan itu. Trem adalah bus yang ada jalur khususnya dengan roda besi. Jadi dia (trem) jauh lebih baik dari pada bus dan itu pengalaman banyak di eropa. Bahkan jerman paling lama dibanding belanda telah sukses mengurai kemacetan,” bebernya.

Johan juga yakin untuk mengubah pola perilaku masyarakat agar bisa beralih dari moda transportasi pribadi ke massal akan lebih cepat. Ini karena trem bisa fleksibel sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Trem jalannya juga lebih cepat dibanding kendaraan pribadi. Mengubah pola pikirnya akan lebih mudah dibanding dengan monorel karena itu sama dengan kereta api. Trem jalurnya juga akan banyak nantinya,” tambahnya.

Selain itu biaya yang murah juga menjadi faktor penentu keberhasilan AMC di Surabaya. Satu di antaranya adalah trem yang harganya bisa ditekan hingga terjangkau masyarakat.

“Cara membuat trem juga gampang. Selain trem baterai ada juga trem listrik yang ditanam di rel, jadi tidak usah pakai kabel di atas. Di Prancis kabel listrik ditaruh di bawah. Sebenarnya semua ini kan mudah, tinggal kita berani mulai gitu saja,” jelasnya.

Sementara ini, pihaknya mengaku bersama Pemkot Surabaya dan PT KAI telah melakukan uji kelayakan. Termasuk Memorandum of Understanding (MoU) sudah disepakati bersama. “Tinggal action saja ini,” cetusnya.

Lebih lanjut, Johan berharap agar pembangunan trem bisa dilakukan lebih cepat. Mengingat kemacetan di Surabaya dari waktu ke waktu semakin tinggi. Meski terlambat, namun dengan adanya trem ini transportasi di Surabaya akan semakin lebih baik. (wh)