Jelang Pensiun, Bupati Batang jadi Host TV Nasional

Jelang Pensiun, Bupati Batang jadi Host TV Nasional

Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo. foto: beritasatu.com

Jelang Pensiun, Bupati Batang jadi Host TV Nasional
Akrab di meja makan sambil ngobrol asyik. foto: mangku

Menjabat bupati Batang sejak 13 Februari 2012, Yoyok Riyo Sudibyo dikenal eksentrik. Pria kelahiran 23 April 1972 asal Bandar, Batang, ini lulusan Akademi Militer 1994 dan Sekolah Lanjutan Perwira 2004. Ia memutuskan berhenti dari dinas militer dengan pangkat terakhir mayor untuk kemudian mengikuti Pilkada Batang 2012, Yoyok bahkan dicap “mayor edan” karena memilih keluar dari TNI.

Periode awal menjabat, Yoyok mengaku nyaris frustasi. Pasalnya, ia sama sekali tak paham soal birokrasi. Sementara di depan matanya, ia melihat dengan telanjang, banyak sekali ketidakberesan dan penyimpangan yang harus diselesaikan.

Kala itu, Yoyok berpikir membenahi mental aparatur. Ia mengundang kiai dan ulama untuk membina mental anak buahnya. Gelaran istighotsah rutin digelar. Namun hal itu tak cukup. Para aparatur di Kabupaten Batang masih saja bermental kurang baik, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Yoyok berupaya lagi. Kali ini, ia mewajibkan anak buahnya untuk ikut training ESQ (Emotional Spiritual Quotient) yang merupakan gabungan EQ (Emotional Quotients) dan SQ (Spiritual Quotients), yaitu penggabungan antara pengendalian kecerdasan emosi dan spiritual. Tapi, lagi-lagi, itu tak cukup. Belum banyak mengubah perilaku dan mentar aparatur di Batang.

Yoyok sempat stres. “Saya mengadu kepada ibu saya. Saya peluk dia, saya menangis. Saya sampaikan betapa berat yang harus saya dihadapi,” aku Yoyok.  Di tengah kegaulauan itu, Yoyok sempat terlontar untuk mengundurkan diri.

Namun sang ibu membesarkan hatinya untuk tetap melanjutkan sampai periode selesai. Karena hal itu menjadi tanggung jawab dan tugas yang harus diselesaikan.

Yoyok memang telah menentukan pilihan. Mundur tentu tak akan menyelesaikan masalah. Justru sebaliknya, lari dari kenyataan. Itu bukan sikap seorang ksatria. Dan lagi, untuk mencegah kemungkuran butuh kekuasaan. Kemungkaran tidak bisa dilawan dengan puisi atau orasi di jalanan.

Lamat tapi pasti, Yoyok menemukan titik terang. Satu kata kunci yang ia terapkan: transpransi. Karenanya, sebelum menggelar Festival Anggaran, mulai 2012, Pemkab Batang menjalin bekerja sama dengan Ombudsman RI di bidang layanan publik, termasuk mulai menerapkan lelang jabatan.

Tak cuma itu saja. Yoyok juga membentuk Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2) Kabupaten Batang, 2013. Kantor ini bertugas melayani semua usulan dan pengaduan masyarakat yang belum digarap atau belum masuk agenda pembangunan.

Dalam pengadaan barang dan jasa, Yoyok belajar kepada Pemkot Surabaya untuk mengadopsi sistem layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) yang dapat mencegah rekayasa dan korupsi. Hasilnya, LPSE Batang meraih standar ISO 27001 dari Lembaga Sertifikasi Internasional ACS Registrars, 2014.