Jelang Pensiun, 25 Pegawai Taspen Belajar ke Witrove

Jelang Pensiun, 25 Pegawai Taspen Belajar ke Witrove

Pegawai Taspen berkunjung ke Gerai Witrove. foto: yayuk surat

Sebanyak 25 orang pegawai PT Taspen (Persero) mengunjungi Gerai Witrove di Perumahan Kebraon Indah Permai, Surabaya, Senin (22/7/2019). Mereka ingin mengetahui proses produksi daur ulang eceng gondok yang bisa disulap menjadi anek souvenir.

Para pehawai Taspen itu juga ingin mendapat banyak wawasan bisnis jelang masa pensiun. “Mereka singgah untuk melakukan observasi langsung ke rumah produksi dan juga belajar praktik,” ujar Wiwit Manfaati, owner Witrove, kepada enciety.co,  Selasa (23/7/2019).

Dalam kesempatan itu, Wiwit memaparkan pengalamannya merintis usaha, 2010. Di mana, dia sama sekali tak punya modal. Bahkan dia berangkat dari kehidupan yang miskin dan banyak utang. Namun setelah mengikuti pelatihan dan mau bekerja keras, semua bisa berubah.

Menurut Wiwit, bisnis bila dimulai dari hobi. Jika suka mengoleksi sepatu, mulailah berlajar membuat sepatu. Jika suka koleksi tas, bisa mulai dari membuat tas, begitu seterusnya.

“Setelah niat yang didasari hobi, kita coba buat produk. Setelah punya produk baru, kita tes dengan cara memasarkan produk tersebut. Nah, sebenarnya memang kita harus tahu pasar produk kita terlebih dulu. Namun kalau kita sibuk dengan hal itu dan tidak berani mulai usaha. Kita tidak akan pernah jadi pelaku usaha,” tegas Wiwit disampingi Supardi, suaminya.

Kata dia, kebutuhan pasar memang menjadi poin utama bagi para pelaku usaha. Namun, jika para pelaku usaha terlalu mengikuti tren keinginan pasar, produk dan usaha juga tidak bakal bisa berkembang.

“Kuncinya memang fokus. Contohnya, produk saya ini tas dan dompet berbahan eceng gondok. Seiring berjalannya waktu, saya menemukan pasar saya. Ya Alhamdulillah, produk saya bisa diterima pasar. Intinya, jangan takut untuk memulai. Jalani saja dulu. Jika niatnya baik, pasti Tuhan bakal membuka jalan,” terangnya.

Saat ditanya modal, Wiwit menjelaskan jika saat merintis usaha, modal yang dia keluarkan hanya sekitar Rp 100 ribu. Modal itu dia pakai untuk membeli eceng gondok dan membayar upah tetangga yang membantunya mengambil eceng gondok dari sungai yang letaknya berdekatan dengan rumahnya.

“Saya mulai usaha ini bukan dari nol. Dari dari minus. Karena saat itu saya punya utang banyak. Dengan modal seadanya saya beranikan diri untuk mulai usaha dan buat produk olahan tas eceng gondok,” tuturnya, mengenang.

Wiwit menambahkan, modal usaha bukanlah segalanya. Prinsipnya, jika produknya laku dan usahanya berkembang, modal datang dengan sendirinya.

“Setelah produk saya laris, sekarang banyak yang nawari saya pinjaman modal. Begitu pula dengan panjenengan semua. Jangan ragu untuk memulai usaha,” pungkas Wiwit. (wh)