Jelang MEA, PKL Pakistan Buka Lapak di Taman Apsari

Jelang MEA, PKL Pakistan Buka Lapak di Taman Apsari
Zaheer Ahmad (42), pria asal Pakistan yang menjajakan kuliner khas Arab di kawasan Taman Apsari Surabaya, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, Senin (31/8/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Tengara yang disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terkait masuknya pelaku usaha kecil menengah (UKM) asing jelang diberlakukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun ini, bukan isapan jempol. Pasalnya, kini mulai bermunculan pelaku UKM yang menyasar pasar Surabaya.

Salah satunya yang ditemui enciety.co di kawasan Taman Apsari, Surabaya. Zaheer Ahmad (42), pria asal Pakistan, membuka lapak dengan menjajakan arabic food.

Di kedai kaki lima berukuran 3 x 5 meter tersebut, Zaheer berjualan aneka makanan khas Arab. Berbekal resep warisan dari ibunya, dia menjual menu-menu  menarik, seperti Prata Wal Butter, Kebab, dan Chapati asli Pakistan, nasi kebuli, nasi goreng kambing, ayam kurma, dan masih banyak lagi.

“Saya nekat berjualan. Jika saya lupa resepnya saya pasti akan telepon ibu dan menanyakannya, karena saya ingin menjaga keaslian rasa dari resep tersebut,” ungkapnya, dengan bahasa Indonesia yang kurang lancar pada enciety.co, Senin (31/8/2015).

Untuk mengolah menu-menu spesial, Zaheer menanganinya sendiri. “Kualitas memang kita jaga. Sebenarnya saat ini saya telah memiliki satu pegawai untuk menangani kedai, tapi sebisa mungkin saya akan lakukan sendiri,” urainya.

Zaheer bercerita, jika sebelumnya dia bekerja di perusahaan ekspor impor di China . “Kurang lebih 6 tahun saya bekerja di perusahaan ekspor impor. Karena ada masalah saya memutuskan berhenti,” jelasnya.

Ketika berhenti bekerja, ia lantas memutuskan untuk pindah ke Indonesia . “Saya sudah 5 tahun berada di Indonesia. Ketika itu saya ingin bekerja lagi di bidang yang sama, namun karena pertimbangan keluarga saya memutuskan untuk membuka usaha kuliner kecil-kecilan,” papar ayah dua orang anak itu.

Saban hari, ia mengaku dapat menghasilkan omzet hingga Rp 700 ribu. “Dalam satu bulan saya dapat menghasilkan omzet mencapai Rp 15 juta lebih. Dengan jam kerja antara 11.00 WIB hingga 24.00 WIB,” akunya.

Zaheer yang sekarang telah berdomisili di Gresik ini, menjelaskan jika dalam sehari dia dapat menjual sekitar 70 hingga 80 porsi menu Arabic racikannya. “Rata-rata yang paling sering diminati adalah kebab, roti Chapati, dan nasi goreng kambing,” imbuhnya.

Dia mengaku kewalahan bila memasuki akhir pekan. “Tepatnya hari Jumat, Sabtu dan Minggu, kedai saya kunjungi anak-anak muda yang kelaparan, mungkin karena letaknya yang strategis, kebanyakan dari mereka nongkrong hingga semalaman. Alhamdulillah, ketika akhir pekan omzet saya bisa lebih dari yang saya hasilkan tiap harinya,” ucap Zaheer.

Zaheer berharap, dengan bisnis yang dirintisnya mulai dari bawah ini, ke depan dirinya dapat membuka usaha rumah makan bintang lima di Surabaya

“Saya sangat senang berada di Surabaya. Kota ini memiliki banyak potensi bisnis. Selain ramah, mayoritas penduduknya muslim. Saya sangat senang berada di lingkungan ini,” pungkas dia. (wh)