Jelang Idul Adha, Konsumsi Daging Sapi Naik 40 Persen

Jelang Idul Adha, Konsumsi Daging Sapi Naik 40 Persen
foto: arya wiraraja/enciety.co

Langkanya daging sapi di Indonesia membuat masyarakat kelabakan. Di Surabaya, rumah pemotongan hewan (RPH) Pegirikan dan Kedurus yang menambah jumlah sapi yang dipotong belum bisa memenuhi konsumsi warga di Kota Pahlawan.

Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya mengatakan, konsumsi daging sapi kurun waktu terakhir naik hingga 20 persen dari bulan biasanya.

“Permintaan terhadap daging sapi untuk konsumsi masyarakat Surabaya bertambah. Dan hal ini wajar apalagi jelang Hari Raya Idul Adha,” tegas Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (14/8/2015).

Untuk Idul Adha, terang Kresnayana, konsumsi daging sapi diperkirakan akan melonjak hingga mencapai 40 persen dari hari-hari biasanya. Karena itu, pemerintah diminta untuk menyiapkan daging sapi sebagai bahan utamanya agar tidak terjadi kelangkaan.

Permintaan daging sapi di Indonesia biasanya dijadikan berbagai jenis olahan seperti sosis dan dendeng. Namun kini, banyak peternak yang beralih dari peternak sapi yang diambil dagingnya menjadi peternak sapi yang diambil susunya.

“Jadi sapi betina yang kini jadi primadona di kalangan peternak karena susunya bisa diperah dan bisa untuk potong,” ujarnya.

Sapi betina jadi primadona karena peternak mendapatkan susu 15 liter. Bila sudah tidak menghasilkan bisa dijual bila karena tidak produktif.

Direktur Jasa dan Niaga dari RPH Pegirian Ludfi Rahmad mengatakan, di Surabaya daging sapi-sapi yang ada di pasar tradisional berasal dari RPH Kedurus dan Pegirikan.

“Hanya dua RPH saja yang memenuhi konsumsi di Surabaya. Karena RPH Ngelom Sepanjang telah ditutup,” kata Ludfi Rahmad.

Pada Juni tahun ini, ada 174 ekor sapi per hari yang disembelih untuk konsumsi masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Melihat masih kurang memenuhi, pihaknya berinisiatif menambah dua ekor sapi untuk disembelih.

“Sekarang setiap harinya kami menyembelih 176 ekor sapi untuk memenuhi konsumsi masyarakat yang semakin tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Muthowif dari Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar, mengatakan harga daging sesuai dengan harga sapi saat hidup.

Ia kini juga melihat di Jatim sendiri untuk hewan sapi keberadaannya semakin mengkhwatirkan. “Saya bingung katanya Jatim aman, tapi saya lihat tidak aman. Buktinya banyak sapi dari Bali yang dipotong disini. Juga sapi Australia tidak diambil susunya tetapi dipotong,” beber Muthowif.

Dia menambahkan, seorang jagal tidak mengurusi bila itu sapi yang disembelih adalah sapi betina atau jantan. “Yang penting bagus, maka disikat,” tukasnya. (wh)