Jelang Idul Adha, Harga Sapi Naik Hingga Rp 1,5 Juta

Jelang Idul Adha, Harga Sapi Naik Hingga Rp 1,5 Juta
foto: RPH Kedurus Surabaya.avit hidayat/enciety.co

Menjelang Idul Adha, harga sapi potong lokal merangkak naik. Seperti yang terlihat disejumlah Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Surabaya Minggu (17/8/2014) kenaikan harga satu ekor sapi mencapai Rp 1 hingga Rp 1,5 juta.

Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS), Muthowif kepada enciety.co mengaku lonjakan terjadi sejak satu minggu terakhir.

“Kondisi ini dipicu banyaknya kebutuhan sapi kurban di Jawa Timur sendiri. Selain itu lantaran banyak sapi potong yang akan dijadikan kurban dibawa ke Banjarmasin, Jawa Barat, Lampung, Jawa Tengah, dan Tanggerang,” ungkapnya.

Menurutnya, harga sapi lokal hidup di tempat penggemukan (Fedloter) saat ini mencapai Rp 41 ribu hingga Rp 43 ribu per kilo gram. “Sedangkan harga sapi impor siap potong betina Rp 36 ribu hingga Rp 37 ribu per kilo gram,” bebernya.

Sedangkan harga sapi potong jantan juga merangkak naik mulai dari Rp 37 hingga Rp 38 ribu per kilo gram. Padahal di saat awal puasa lalu harga sapi lokal dari kisaran Rp 10 juta kini mencapai Rp 11,5 juta per ekor.

“Dimungkinkan, harga sapi akan lebih melonjak saat Idul Adha tepatnya pada awal Oktober mendatang,” katanya.

Muthowif, menyesalkan sikap Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) yang justru mendatangkan sapi impor dan daging impor. Menurutnya itu telah melanggar Surat Edaran Gubernur Jatim tentang pelarangan sapi impor masuk Jatim. “Sangat tragis Jatim sebagai lumbung sapi dan daging dengan menyuplai kebutuhan daging 32 persen nasional justru mengabaikan suplai sapi di Jatim sendiri,” ujarnya.

Dampaknya, meski harga daging terpantau stabil di sejumlah pasar tradisional, tapi akan membuat harga sapi lokal kian melejit. “Naiknya harga sapi hidup masih belum mempengaruhi harga daging segar di pasar tradisional. Harganya masih stabil di kisaran Rp 90 ribu hingga Rp 95 ribu per kilo gram,” ungkapnya.

Dari pantauan Muthowif, mengantisipasi kerugian sejak Juni lalu para pedagang daging di Surabaya mulai beralih memotong sapi impor. “Kalau di daerah sekitar Surabaya seperti Gresik, Lamongan, Sidoarjo, Mojokerto, dan Bangkalan kebutuhan pasar tradisional disuplai dari daging impor dijual bebas secara illegal,” tegasnya.

Sementara itu, meski Pemprov Jatim mengandalkan sapi impor untuk stabilitas harga daging di pasar tradisional namun menurutnya, stok sapi impor akan segera habis pada awal Oktober mendatang. “Kalau tidak ada tambahan jumlah sapi bakalan dari luar jatim akan terjadi gejolak setelah bulan oktober,” prediksinya. (wh)