Jatim Tak Terdampak Brexit

Jatim Tak Terdampak Brexit

foto: aljazeera.com

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menegaskan referendum yang dilakukan Inggris dengan memilih keluar dari Uni Eropa tidak banyak membawa pengauh terhadap perekonomian Jawa Timur. Meskipun nilai mata uang poundsterling melemah sepuluh persen terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada sesi penutupan Jumat lalu.

“Sebetulnya yang menentukan itu The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat). Jika The Fed menaikkan suku bunganya, seluruh USD secara otomatis akan kembali. Sementara Inggris itu bagian ada di dalamnya, dan tidak membawa dampaka besar,” kata orang nomor satu ini saat dijumpai di Kadin Jatim, Sabtu malam (25/6/2016).

Menurutnya jika mata uang inggris (GBP) melemah memanag berpengaruh terhadap aktivitas maupun nilai perdagangan. “Kalau GBP terkoreksi terhadap mata uang eropa (Euro), industri mereka akan slow down, dan menyebabkan daya beli terhadap barang kita juga turun,” lanjutnya.

Sejauh ini pihaknya belum bisa mengambil kebijakan strategis sebagai antisipasi dampak dari Brexit. Dia ingin melihat sejauh mana dampak dari Brexit ini dalam beberapa hari ke depan sambil menungu kebijakan dari pimpinan Uni Eropa.

“Kebijakan Inggris seperti apa, kebijakan UE seperti apa kita belum tahu. Apakah ini kejutan sesaat atau berkepanjangan, kita tunggu saja,” tegasnya. Dia mengakui rupiah sempat melemah, namun pelemahan itu bukan disebabkan murni sentiment.

Dia menambahkan sejauh ini gejolak pasa modal dan pasar uang belum bisa dijadikan ukuran dampar dari Brexit.Meskipun banyak pelaku pasar yang melepas pound dan memilih membelanjakan USD, yen (Jepang), euro maupun mata uang lainnya.

Sehari sebelum gejolak Brexit, Jawa Timur menerima Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik ke Gedung Negara Grahadi. Kedatangan ini untuk membalas kunjungan Kadin Jatim pada bulan April lalu. Bahkan dalam kunjungan ini membawa dampak positif yakni bakala hadrinya sekitar 80 pengusaha Inggris ke Indonesia. (wh)