Jatim Properti Expo Targetkan Transaksi Rp 150 M

Jatim Properti Expo Targetkan Transaksi Rp 150 M
Jatim Properti Expo yang ditarget transaksi Rp 150 miliar. umar alif/enciety.co

Sejak adanya kebijakan dan pengetatan dari Bank Indonesia terkait kredit pemilikan rumah (KPR), pasar proserti memang sempat menurun dan lesu. Namun, seiring berjalannya waktu, minat masyarakat akan properti dan kebutuhan mereka yang tidak bisa terbendung membuat pasar properti kembali membaik.

Kondisi itu membuat Direktur PT Citra Pamerindo Abadi (CPA) M Zainal Abidin optimistis dalan pameran Jatim Properti Expo yang digelarnya sejak 25 Oktober hingga 2 Novenber, mampu meraup transaksi hingga Rp 150 miliar.

“Bukan hanya kebijakan pengetatan KPR dari Bank Indonesia, namun bencana lumpur Lapindo juga sempat emmbuat pasar properti di Jatim jeblok. Tapi kali ini kondisinya semakin emmbaik, salah satunya mungkin karena perkembangan industri dan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik disini, sehingga saya optimis dengan target pameran saya kali ini,” papar Zainal.

Zainal menjelaskan, dalam pamerannya kali ini ada 70 pengembang dengan 200an proyek yang ikut serta. Dimana 60 persen dari proyek tersebut adalah hunian untuk kelas menengah kebawah, 25 hingga 30 persen untuk kelas menengah hingga atas, dan 10 hingga 15 persennya merupakan hunian mewah dan premium.

“Persentasi dan jumlah proyek tersebut jiuga merepresentasikan kondisi kebutuhan akan properti di masyarakat. Dimana pasar bagi kelas menengah ke bawah memang mendominasi dari kebutuhan akan hunia tersebut.

“Akan tetapi jika dilihat, proyek properti mewah dan premium dari para pengembang juga semakin banyak. Mungkin mereka ingin menangkap peluang dimana kondisi perekonomian masyarakat juga terus naik dan kelas menengah atas yang mereka bidik bukan hanya dari Jatim dan sekitarnya, tetapi juga dari luar pulau dan luar negeri,” tuturnya.

Zainal menambahkan, Surabaya merupakan daerah yang sangat diminati oleh pembeli, dan para pembeli sekarang ini bahkan banyak pembeli dari luar Surabaya dan daerah-daerah di Jatim, tetapi juga daerah lain, hingga luar pulau.

“Mungkin mereka menganggap bahwa Surabaya menjadi kota yang sangat berkembang dan menjadi pusat perdagangan dan jasa. Juga merupakan jantung perekonomian di Indonesia Timur,” tukasnya. (wh)