Jatim Panen Raya Cabai Januari 2015

Jatim Panen Raya Cabai Januari 2015

Meski harga cabai masih cukup tinggi, diperkirakan itu tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, musim panen raya cabai bakal terjadi pada Januari 2015, sehingga stok akan melimpah dan harga akan kembali normal.

“Beberapa daerah yang menjadi sentra utama tanaman cabai di Jatim, seperti Banyuwangi, Jember, Kediri, Blitar, Malang dan Lumajang sekarang memang masih belum panen. Panen raya diperkirakan akan terjadi pada Januari 2015 dan saat itu harga bisa kembali normal,” kata Ketua Asosiasi Cabai Jatim, NS Sukoco, Selasa (9/12/2014).

Diperkirakannya, harga akan kembali normal pada Januari, namun dengan catatan jika hujan tidak ekstrim. “Kalau hujan ekstrim besar kemungkinan harga akan bertahan tinggi karena banyak tanaman yang rusak,” jelasnya.

Tetapi untuk jumlah tanaman yang ditanam untuk panen Januari menurut penuturan Sukoco sudah kembali normal, bahkan lebih. Jumlah tanaman cabai merah besar dan keriting sudah mencapai 2.000 hektar dan cabe rawit mencapai sekitar 10.000 hektar.

“Ya tinggal lihat cuacanya saja, kalau cuaca tidak ekstrim pasti produksi akan melimpah dan tidak akan kekurangan,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, produksi cabai merah besar dan keriting di seluruh Jatim hanya tersisa 3.000 ton hingga 4.000 ton per bulan. Jumlah itu lebih kecil dari produksi normal yakni mencapai sekitar 8.000 per bulan. Sementara kebutuhan untuk Jatim mencapai 4.000 hingga 5.000 per bulan. Hal yang sama juga terjadi pada produksi cabai rawit.

“Kalau untuk Jatim saja mungkin masih bisa terpenuhi, tetapi Jatim ini kan menjadi salah satu sentra penghasil cabai yang sudah bekerjasama dengan beberapa daerah lain yang membutuhkan, seperti Pasar Induk di Jakarta, Bandung, Kalimantan dan Sumatra sebagian besar dipasok dari sini. Sehingga harga di Jatim juga ikut terkerek,” katanya.

Ia mengatakan, memang dalam beberapa waktu terakhir ini harga seluruh jenis komoditas cabai mengalami lonjakan. Kondisi ini menurutnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pertama dipicu oleh berkurangnya jumlah tanaman cabai yang ditanam petani pada bulan Juli hingga Agustus dan panjangnya musim kemarau yang telah terjadi.

Karena pada pada bulan Mei Juni dan Juli harga cabai sangat murah, hanya dikisaran Rp 2.000 per kilogram di tingkat petani, maka banyak petani yang memilih tidak menanam.

“Modal sudah menipis, sementara harga tidak menarik akhirnya banyak petani yang tidak menanam cabai,” katanya.
Ia menambahkan, dengan kemarau panjang yang mengakibatkan banyak tanaman terserang hama seperti Kutu Kebul, Trith dan Pungan sehingga produksi hanya tinggal separuh dari biasanya. (kmf/wh)