Jatim Masih Terbuka untuk Pertumbuhan Ekonomi Syariah

Jatim Masih Terbuka untuk Pertumbuhan Ekonomi Syariah
foto: bisnis.com

Pertumbuhan perekonomian yang berbasis syariah di Jawa Timur masih terbuka. Dari data jumlah penduduk yang kini tercatat 38,85 juta, masyarakat yang beragama Islam mencapai 36,65 juta jiwa atau sekitar 96,76 persen.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan potensi untuk mengembangkan keuangan syariah guna menggenjot pertumbuhan ekonomi masih bisa dilakukan.

“Ekonomi keuangan syariah merupakan suatu solusi untuk mengembangkan perekonomian di negara ini. Namun harus dibarengi dengan sinergi dari Otoritas Jasa Keuangan yang ada termasuk dari BI sendiri,” tegas Perry Warjiyo dalam acara Indonesia Sharia Economyc Festival di Hotel JW Marriott, Selasa (27/10/2015).

Ia menambahkan, untuk provinsi Jawa Timur sendiri, aset perbankan pada semester I tahun 2015 hanya tumbuh sebesar 11,56 persen dibandingkan semester II tahun 2014 yang mencapai 15,65 persen.

“Dengan kegiatan perekonomian syariah akan membawa hasil yang pasti bagi perkembangan ekonomi di Jatim dan daerah lain di Indonesia,” papar dia.

Hingga kini, menurut Perry, pasar perbankan syariah di Indonesia masih tergolong rendah dibanding negara lain, misalnya Malaysia. Pada tahun ini sendiri, pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia hanya mencapai 4,61 persen saja dan negara serumpun lainnya tercatat mencapai 25 persen.

“Bila dibandingkan dengan Malaysia memang kalah. Oleh karena itu kita kembangkan ekonomi syariah di daerah untuk memacu pertumbuhan ekonomi,” lanjutnya.

Diharapkan, pemerintah pusat dan daerah nantinya akan ada peraturan dalam bentuk undang-undang yang pro kepada ekonomi syariah. Seperti kemenag di setiap provinsi dapat mendorong melalui fatwa yang dikeluarkan agar masyarakat dapat mau membangun ekonomi syariah. Begitu juga di pesantren atau sekolah Islam dapat menerapkan dan mendorong menjadi pusat ekonomi keuangan syariah. (wh)