Jatim Keurangan Guru Bahasa Daerah

Jatim Keurangan Guru Bahasa Daerah
foto: umar alif/enciety.co

Guru bahasa daerah yang mengajar dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jawa Timur tercatat hanya ada 2.817 orang saja. Dengan berlakunya Peraturan Gubernur Nomor 19 tahun 2014 tentang pengajaran muatan lokal bahasa Jawa di seluruh jenjang pendidikan tampaknya masih menemui kendala.

Dalam pergub tersebut tercantum diwajibkannya pelajaran bahasa daerah selama dua jam seminggu, maka jumlah guru bahasa daerah seharusnya mencapai 6.000 orang.

Sekretaris Dinas Pendidikan (Dispendik) Jatim, Soetjipto membenarkan bila pihaknya sangat kekurangan guru bahasa daerah, baik bahasa Jawa maupun bahasa Madura. “Guru yang mengajar di tingkat SD dan SMP mungkin masih terpenuhi. Tapi, untuk jenjang SMA dan SMK ini yang kekurangan,” kata Soetjipto.

Diketahui dari data yang ada, jumlah SMA/SMK di Jatim mencapai 3 ribuan. Dengan demikian, seharusnya ada dua penambahan guru bahasa daerah di setiap sekolah. Selama ini proses pembelajaran bahasa daerah memang berjalan lancar. Sebab, ada proses rangkap pengajaran dari tingkat SD hingga SMA.

“Guru SD yang hanya mengajar dua jam pelajaran bahasa daerah, diyakini akan mampu mengatur dan membagi jadwal pengajaran di sekolah sendiri maupun sekolah lainnya,” ujarnya.

Idealnya, seorang guru mengajar 24 jam selama seminggu Kalau dua jam pelajaran sehari dengan tambahan kelas dan sekolah lain dirasa akan memenuhi jam mengajarnya. Kalau tidak ada guru sekolah atau jenjang lain yang mau mengajar, maka guru serumpun bisa dijadikan solusi pengganti untuk mengajar pelajaran bahasa daerah.

“Intinya serumpun itu masih satu kompetensi. Misalnya guru bahasa Indonesia bisa mengajar bahasa daerah, ada ilmu tata bahasa daerah yang mirip dengan bahasa Indonesia. Beda dengan guru Fisika tidak bisa ngajar bahasa Jawa. Bukan kompetensinya itu,” tegasnya. (wh)