Jatim Andalkan Kopi Ijen dan Raung

Jatim Andalkan Kopi Ijen dan Raung
sumber foto: dpdasitajatim

Produksi kopi Jatim cukup dikenal di berbagai negara Amerika dan Eropa. Salah satu kopi kualitas terbaik yang kini digenjot produksinya yakni Kopi Ijen dan Kopi Raung. Kopi jenis Arabika tersebut diproduksi di wilayah Jember, Banyuwangi, Lumajang, Situbondo, dan Bondowoso.

“Kopi Ijen dan Raung ini termasuk kualitas terbaik. Harganya juga cukup bagus. Jenis Arabika ini per kilogram (kg) nya sekitar Rp 60 ribu. Karena potensial, maka kami berupaya terus mengembangkan produksinya agar dapat meningkat,” ujarKepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien, Rabu (20/5/2015).

Bahkan, kata Samsul, karena sudah cukup terkenal di manca negara, banyak kopi dari luar Jatim yang di ekspor melalui Jawa Timur. Hal itu dilakukan demi menyandang sebuah nama kopi Jawa Timur.

“Kopi Jawa Timur memang telah dikenal di dunia internasional sebagai kopi dengan kekhasan cita rasa yang tinggi. Sebagai contoh, predikat coffee specialty telah disandang oleh kopi Arabika Ijen Raung yang dikenal di luar negeri dengan nama Java Coffee,” beber dia.

Sejak tiga tahuh lalu, pihaknya juga mulai mengembangkan Kopi Arabika dengan menanam sebanyak dua juta bibit baru. Pengembangan itu dilakukan di enam daerah yang memiliki dataran tinggi di atas 800 meter di atas permukaan air laut (mdpl), yakni Situbondo, Bondowoso, dan Jember masing-masing seluas 500 hektar, Kab Malang 300 hektar, serta Lumajang dan Kab Probolinggo masing-masing 100 hektar.

Pengembangan produksi kopi Arabika diupayakannya hingga mencapai 2.000 hektare. Pengembangan kopi arabika itu, juga mendapat rekomendasi dari Gubernur Jatim, Soekarwo untuk ditingkatkan lebih besar lagi, karena permintaan pasar yang masih cukup tinggi. Upaya dengan memperluas areal tanam itu juga mendapatkan dukungan dari Asosiasi Petani dan dilakukan dengan menggandeng Perhutani.

“Produksi kopi arabika di Jatim masih sangat terbatas. Sementara pasar untuk distribusinya masih terbuka lebar dan bisa diekspor ke luar negeri. Namun, pengembangan Kopi Arabika yang cukup sulit, karena harus memenuhi persyaratan teknis yakni di atas lahan dengan ketinggian diatas 800 mdpl,” ujarnya.

Ia menambahkan, permintaan kopi arabika yang harganya tergolong lebih mahal dari pada kopi robusta ini masih cukup tinggi, sehingga potensi pengembangannya kini tetap akan diupayakan. Jika dipersentasekan dari total produksi kopi Jatim, Kopi Robusta mampu mencapai 93 persen dan sisanya 7 persen jenis Arabika. (kmf/wh)

1 komentar di “Jatim Andalkan Kopi Ijen dan Raung

Komentar di tutup.