Januari 2016, Inflasi Surabaya Tertinggi di Jatim

Januari 2016, Inflasi Surabaya Tertinggi di Jatim
M Sairi MA, Kepala BPS Jawa Timur, ketika ditemui enciety.co di Kantornya, Jalan Kendangsari Industri Surabaya, Senin (1/2/2016) siang. foto: arya wiraraja/enciety.co

Pada bulan Januari 2016 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,65 persen. Dari delapan kota IHK (Indeks Harga Konsumen) di Jawa Timur, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,73 persen, diikuti Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,67 persen, Kabupaten Sumenep 0,65 persen, Kota Malang sebesar 0,58 persen, Kota Madiun sebesar 0,49 persen, Kota Kediri sebesar 0,47 persen, Kabupaten Jember sebesar 0,43 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Probolinggo sebesar 0,42 persen.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BPS Jawa Timur M Sairi Hasbullah, ketika ditemui di kantornya, Jalan Kendangsari Industri Surabaya, Senin (1/2/2016).

“Dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok pengeluaran mengalami inflasi dan satu kelompok pengeluaran mengalami deflasi. Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok bahan makanan sebesar 2,36 persen, diikuti kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau  sebesar 0,74 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar dan kelompok sandang masing-masing sebesar 0,67 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,50 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 0,09 persen,” urai dia.

Kata dia, sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok transport, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,03 persen. Untuk komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi, Sairi menjelaskan diantaranya, daging ayam ras, bawang merah, tarif listrik, telur ayam ras, kentang, rokok kretek filter, pasir, bawang putih, emas perhiasan, dan tomat sayur.

“Selain itu, adapun komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah bensin, angkutan udara, solar, telepon seluler, apel, pampers, bandeng/bolu, minyak goreng, tarif kereta api, dan udang basah,” jelasnya.

Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, seluruh kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Serang sebesar 0,90 persen, diikuti Kota Surabaya sebesar 0,73 persen, Kota Bandung dan Kota Yogyakarta masing-masing sebesar 0,53 persen, Kota Semarang sebesar 0,39 persen dan inflasi terendah terjadi di Kota Jakarta sebesar 0,24 persen.

“Dari 82 kota IHK nasional, 75 kota mengalami inflasi dan 7 kota mengalami deflasi. Lima kota yang mengalami inflasi tertinggi adalah Sibolga sebesar 1,82 persen, Kendari sebesar 1,49 persen, Makasar sebesar 1,36 persen, Bima sebesar 1,29 persen dan Bau-bau sebesar 1,22 persen. Sedangkan 5 kota yang mengalami deflasi tertinggi adalah Gorontalo sebesar 0,58 persen, Palu sebesar 0,41 persen, Balikpapan sebesar 0,21 persen, Tanjung sebesar 0,19 persen, dan Manado sebesar 0,18 persen,” terang dia.

Laju inflasi tahun kalender Bulan Januari 2016 terhadap Desember 2015 di Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,65 persen, angka ini lebih tinggi dibanding inflasi tahun kalender Januari 2015 sebesar 0,20 persen.

“Untuk inflasi year-on-year pada Januari 2016 terhadap Januari 2015 di Jawa Timur sebesar 3,54 persen, angka ini lebih rendah dibanding inflasi year-on-year bulan Januari 2015 sebesar 6,86 persen. (wh)

Januari 2016, Inflasi Surabaya Tertinggi di Jatim