Jangan Bisnis Franchise Jika Anda Lewatkan 6 Langkah Ini

Jangan Bisnis Franchise Jika Anda Lewatkan 6 Langkah Ini

Luhur Budijarso

Franchise atau waralaba menjadi pilihan yang banyak dilakukan pelaku bisnis. Baik pelaku bisnis berskala menengah maupun atas. Franchise sejatinya merupakan sebuah metode membuka bisnis dengan nama, merek dagang, hingga produk dan bahan dari bisnis yang sudah ada.

Luhur Budijarso, senior consultant Enciety Business Consult, memberikan  6 langkah yang bisa diterapkan menjalankan bisnis franchise. Pertama, siapkan sistem bisnis atau Standar Operasional Prosedur (SOP). Bisnis franchise harus punya banyak mitra kerja supaya usahanya dapat berjalan. Jadi, cukup dengan memahami SOP, mitra atau rekanan bisnis dapat menjalankan usaha dengan baik.

“SOP nya harus rinci, tapi ringkas. Ini tantangannya. Terkadang, SOP yang kita buat ribet sehingga mitra usaha kita sulit menerapkan dan berkembang. Contohnya, restoran franchise Hisana Ayam Goreng yang punya outlet lebih dari 1.000. Karena mereka punya SOP yang bagus, bisnisnya bisa berjalan lancar,” jabarnya di sela acara Surabaya Great Expo 2019 di Grand City, Jumat (16/8/2019).

Kedua, membangun merek dan pemasaran teknis. Hal ini kewajiban agar dapat membangun merek dagang.  “Kita harus bisa membangun merek dagang dan memasarkannya. Ini kewajiban kita sebagai owner untuk menjaring dan mempermudah para mitra bisnis,” cetus Luhur.

Ketiga, menyelesaikan perizinan. Sebelum menjalankan bisnis franchise, pastikan segala perizinan telah lengkap. Selain memudahkan para mitra bisnis membantu kita mengembangkan usaha, perizinan juga dibutuhkan untuk meyakinkan para calon pembeli mempercayai kualitas produk yang dijual.

Keempat, memilih mitra yang tepat. Seringkali bisnis franchise masih mulai merintis. Belum dikenal dan belum banyak pelanggan. Aatara owner dan mitra bisnis tidak ada masalah.  Namun, setelah bisnis menjadi besar, mulai muncul masalah.  “Untuk itu, pilih mitra bisnis yang sesuai visi bisnis franchise kita,” terang Luhur.

Kelima, rancang dan tawarkan perjanjian yang jelas. Perjanjian bisnis franchise masuk dalam jenis hukum perdata. Artinya, perjanjian ini mengingat antarkedua belah pihak. Intinya, jika sudah disetujui kedua belah pihak, antara owner dan mitra bisnis, isi dari perjanjian tersebut harus dipatuhi dan sifatnya mengikat.

Keenam, Luhur mengatakan, jika para pelaku usaha bisnis franchise harus menyiapkan sistem monitoring dan evaluasi rutin. Hal ini sangat penting dan terkait kualitas usaha. Fungsinya, sebagai owner dapat memantau. Jika terjadi bahan yang diurangi, bumbu masakan yang tidak sama, atau kemasan serta label yang berbeda, bisa dikontrol itu dan memperbaiki hal tersebut.

“Kesannya cuman 6 langkah, tapi kerja keras selama ribuan jam untuk bisa mengembangkan usaha bisnis franchise ini,” tegas Luhur, lantas tersenyum. (wh)