Jajaki Bangun Taman Komodo, Risma akan Temui Kemenhut

Jajaki Bangun Taman Komodo, Risma akan Temui Kemenhut

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya serius mencanangkan pembangunan taman komodo di Surabaya. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menegaskan pihaknya segela berkomunikasi dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terkait segala perizinannya.

Risma menganggap bahwa keinginannya membangun taman komodo di Surabaya tak lain lantaran surplusnya populasi satwa Komodo di Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS). Selain cara itu, beberapa waktu lalu, ia juga mengagendakan pertukaran satwa ke Taman Nasional Komodo.

“Itu kemarin, salah satu izin komodo upayanya untuk mengurangi kepadatan populasi. Awalnya kita pikirkan untuk tukar satwa karena kita tidak ingin nantinya satwa Komodo akan inces. Jadi nanti kita memberi satwa ke Taman Nasional Komodo di Batam, sebaliknya dia juga akan memberikan komodo, bertukar gitu,” katanya kepada wartawan usacara acara Pahlawan Ekonomi dan Start Surabaya, Sabtu (4/4/2015).

Terkait perencanaan pembangunan taman komodo di Surabaya, dalam waktu dekat ia akan melakukan survei apakah iklim di Surabaya sesuai dengan endemik Komodo. Jika memang cocok maka pihaknya akan segera melakukan komunikasi dengan Kemenhut. Namun jika tidak, maka perempuan yang dinobatkan sebagai pemimpin terbaik ke-24 di dunia versi Majalah Fortune itu, tidak akan memaksakan kehendak.

“Kita masih survei, cocok atau tidak. Nanti kalau ada banyak yang mati kan aku disalahno maneh (disalahkan lagi, red),” cetusnya, lalu tersenyum.

Karena itu, tidak menutup kemungkinan bahwa jika ditemukan wilayah di Surabaya yang sesuai dengan endemik habitat komodo, maka Risma akan segera melakukan komunikasi untuk mendapat perizinan Lembaga Konservasi (LK). “Ya gitu mungkin, tapi kita lihat nanti saja lah,” tambahnya.

Plt Direktur Utama PDTS KBS Aschta Nita Boestani Tajudin mengungkapkan jumlah satwa yang berada di KBS sudah mencapai 2.300 ekor. Itu terdiri dari empat kelas dan berada di atas lahan seluas 15 hektar saja. Karena keterbatasan lahan ini sejumlah spesies dikhawatirkan stres karena tidak sesuai dengan habitatnya.

“Seperti komodo, saat ini koleksi kami mencapai 82 ekor. Ini setelah kita mendapatkan 12 ekor komodo yang baru menetas beberapa waktu yang lalu. Jadi, sebenarnya kita butuh tempat lagi yang lebih luas, karena sementara ini kandang KBS hanya seluas 5 kali 20 meter saja,” jabarnya.

Bahkan, diakui Aschta, karena keterbatasan kandang ini membuat 17 ekor komodo usia 1 hingga 2 tahun yang harusnya siap dilepas ke kandang replika alam, terpaksa masih ditempatkan di sebuah aquarium seluas 1 kali 1,5 meter saja. Padahal komodo kata Aschta juga membutuhkan matahari untuk berjemur.

“Jadi sementara ini untuk menyesuaikan iklim endemiknya kami membawa keluar masuk komodo untuk mendapatkan sinar matahari. Kami khawatir air liurnya yang penuh bakteri itu akan berdampak pada kesehatannya jika komodo tidak dijemur,” pungkas dia. (wh)