Jailbreak iPhone Jadi Bisnis Menggiurkan

Jailbreak iPhone Jadi Bisnis Menggiurkan

Bisnis aplikasi untuk perangkat mobile menjanjikan keuntungan menggiurkan. Menurut sebuah perusahaan riset Gartner, seperti ditulis the Washington Post, tahun 2013 nilainya hampir USD 27 miliar atau setara Rp 328 triliun.

Pada 2017 nanti, bisnis ini diproyeksikan bisa meraih lebih dari USD 76 miliar  atau Rp 924 triliun. Perkiraan tersebut berdasarkan asumsi penggunaan pada sistem operasi Google Android dan platform iOS Apple, sebagai pemain dominan.

Produk iPhone tanpa jailbreak mengharuskan penggunanya membeli semua aplikasi melalui toko iTunes resmi. Tentunya strategi ini agar perusahaan tetap menangguk untung. Tak kehilangan akal, para hacker—yang sejatinya juga penggemar produk-produk Apple—kemudian mencari kebebasan.

Apple sendiri melaporkan pendapatan melalui iTunes sebesar USD 9,3 miliar . Toko iTunes itu menjual aplikasi musik, film, dan e-book. Maka dari itu Apple mengontrol secara ketat aplikasi produknya, karena itulah daya tariknya. Sang pendiri perusahaan, almarhum Steve Jobs, sangat mengutamakan detail dari pengalaman pengguna. Tujuannya agar hak hardware, software, dan layanan online bekerja dengan mulus.

Ini berbeda dengan perangkat Android Google yang dibuat oleh berbagai produsen dan dapat memuat aplikasi dari berbagai penyedia aplikasi. Apple membuat produk sendiri dan ketat mengawasi aplikasi yang tersedia di iTunes. Apple biasanya mengambil potongan 30 persen dari setiap penjualan dan membatasi pengembang perangkat yang tak mematuhi peraturan perusahaan. “Produk Apple pun seperti penjara kristal yang menawan,” kata direktur proyek teknologi di Electronic Frontier Foundation, Peter Eckersley.

Jailbreak memungkinkan pengguna perangkat mobile Apple memalsukan untuk lokasi mereka untuk mengecoh pelacakan lokasi. Jailbreak juga memungkinkan penggunaan browser alternatif yang memiliki pengaturan privasi, yang tidak tersedia di Apple Safari.

“Apple ingin memastikan bahwa pelanggan kami memiliki pengalaman hebat dengan iPhone. Jailbreak dapat menurunkan pengalaman hebat tersebut,” kata juru bicara Apple, Trudy Muller. Ia melanjutkan, sebagian besar pelanggan tidak men-jailbreak iPhone mereka karena itu dapat melanggar garansi. Serta dapat menyebabkan iPhone menjadi tidak stabil dan tidak bekerja secara andal.

Beberapa waktu terakhir, kelompok hacker ternama, “evad3rs” berjuang melawan tuduhan bahwa mereka men­jailbreak untuk tujuan bisnis. Gara-garanya, mereka merilis perangkat jailbreaking secara publik untuk iOS 7 akhir Desember 2013 yang lalu.

Kontroversi jailbreak perangkat mobile Apple mencuat, karena dianggap memicu terciptanya pasar underground alternatif. Jailbreak menjadi tenar karena Apple terkenal ketat membatasi penggunanya dalam mengutak-atik perangkat. Sebab setiap tahun, Apple merilis versi baru dari perangkat lunak menjalankan perangkat mobile ikonik mereka; iPhone dan iPad . Dan setiap tahun pula, sebuah komunitas kecil hacker tak henti melakukan jailbreak.

Pun beberapa hari sebelum Natal, sebuah akun bernama Geohot mencoba untuk membeli satu set alat jailbreak iOS 7 sebesar USD 350.000. Pria yang belakangan dikenal bernama asli George Hotz, ialah seorang peneliti keamanan yang pernah digugat oleh Sony karena mengembangkan hack ke dalam konsol PlayStation 3 game. Ia sendiri mengakui pada halaman web-nya bahwa ia telah dalam perlombaan dengan evad3rs untuk merilis iOS 7 jailbreak. Tetapi membantah bahwa ia membuat kesepakatan untuk menjualnya.(wh)