Jaga Pasokan Lebaran, RNI Siapkan 30 Ribu Ton Gula

 

Jaga Pasokan Lebaran, RNI Siapkan 30 Ribu Ton Gula

Guna menjaga kestabilan harga sembako saat Ramadan hingga Lebaran mendatang, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) akan menambah alokasi pasokan gula dan daging. Alokasi yang disiapkan sebanyak 30.000 ton terdiri dari 10.000 ton Raja Gula kemasan 1 kilogram (kg), 5 kg, dan 20.000 ton untuk Raja Gula ukuran 50 kg. Sedangkan untuk daging dialokasikan 9.000 ekor sapi jenis simental, limousine, dan sapi Bali.

“Untuk suplai gula berasal dari 10 pabrik gula (PG) milik RNI di Jawa Timur, Jogja dan Jawa Barat. Sedangkan sapi yang siap dipotong diambil dari peternakan sapi RNI di perkebunan tebu RNI Jati Tujuh, Indramayu-Majalengka Jawa Barat dan Peternakan Sapi RNI kerjasama dengan PT GNE di Lombok Praya, NTB,” kata Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro, Senin (30/6/2014).

 Menurut dia, penyebaran Raja Gula dan Raja Daging RNI dilakukan pada wilayah yang rentan terjadinya fluktuasi harga yang tak terkontrol, Pihaknya juga memanfaatkan Waroeng Rajawali yang tersebar di berbagai daerah untuk mendistribusikan Raja Gula dan Raja Daging dengan harga yang kompetitif.

Selain membantu alokasi pasokan gula dan daging, RNI pada musim giling ini juga menargetkan produksi gula sebanyak 160.000 ton. Ismed menjelaskan, sebanyak 160.000 ton gula tersebut didapat dari 14.000 hektare lahan tebu RNI yang produktif. Pada musim giling kali ini ada peningkatan produksi sebesar 10 persen dibandingkan musim giling sebelumnya.

“Itu yang dari lahan tebu RNI saja, kalau ditambah dari petani-petani total kapasitas produksi kami mencapai 420.000 ton tebu. Gula dari lahan tebu petani, kita sistemnya bagi hasil,” ungkapnya.

Dia memperkirakan, musim giling kali ini akan lebih bagus dibanding sebelumnya, didorong cuaca baik. Ismed juga berharap, membaiknya cuaca akan dibarengi dengan situasi pasar yang juga membaik.

Meski demikian, ada beberapa hal yang dirasanya kurang. Rendemen tebu di Indonesia masih di level 9 persen. Tebu-tebu tersebut umumnya terdapat di Jawa Timur. Level tersebut masih jauh di bawah Vietnam dan Thailand, di mana endemen tebunya di level 12-14 persen.

“Kita masih ada masalah di varietas tebu, kesuburan tanah, dan pabrik-pabrik gula sudah berusia tua yang dibangun sejak jaman Belanda. Di samping itu, ada masalah sosial, ada regulasi yang tidak konsisten,” tandasnya. (ram)