Jack Ma Bicara Soal Strategi  Proteksionisme  Trump

Jack Ma Bicara Soal Startegi Proteksionisme Trump

FILE PHOTO: Jack Ma, chairman and then-chief executive officer of Alibaba Group Holding Ltd., laughs at a news conference in Hong Kong, China, on Tuesday, Nov. 6, 2007. Alibaba, which rode China's emergence as an economic superpower over the last 15 years to become a massive online marketplace for everything from forks to forklifts, filed today for what could become the largest U.S. initial public offering ever. Photographer: Daniel J. Groshong/Bloomberg *** Local Caption *** Jack Ma

 

Miliarder asal China sekaligus CEO e-commerce raksasa Alibaba, Jack Ma, berbicara tentang masa depan perdagangan online dan globalisasi. Hal tersebut ia sampaikan dalam acara “An Insight, An Idea with Jack Ma” di dalam pertemuan tahunan World Economic Forum yang digelar di Davos, Swiss.

Dalam acara yang diadakan pada 18 Januari lalu, Ma berpendapat bahwa China harus memberi waktu terhadap Presiden terpilih Donald Trump untuk menetap sebelum bereaksi terhadap retorikanya.

Tanggapan Ma tersebut datang satu hari setelah Presiden China Xi Jinping menyatakan komitmennya dalam perdagangan bebas. Pernyataan Xi Jinping tersebut dianggap sebagai peringatan kepada Trump yang memilih jalan proteksionisme–mengetatkan perdagangan antaranegara. “Perang perdagangan akan menjadi bencana bagi dunia,” ujar Ma seperti dikutip dari Fortune, Selasa (24/1/2017).

“Sangat mudah untuk jatuh ke dalam perang perdagangan,” imbuh pria kelahiran 10 September 1964 tersebut.

Belum genap seminggu Donald Trump menjabat sebagai Presiden AS, ia menandatangani perintah eksektuif untuk menarik dari Trans-Pasific Partnership (TPP). Kesepakatan perdagangan 12 negara itu adalah salah satu warisan terpenting Presiden Obama terhadap kebijakannya di Asia.

Selama kampanye presiden, ia mengkritik kesepakatan itu sebagai “berpotensi membahayakan negara kita”, dengan alasan merugikan manufaktur AS.

TPP adalah perjanjian dagang yang dikuasai 40 persen ekonomi dunia. Perjanjian ini dinegosiasikan pada tahun 2015 oleh negara-negara termasuk AS, Jepang, Malaysia, Australia, New Zealand, Kanada dan Meksiko.

Dalam kesempatan itu, Ma berpendapat bahwa Amerika Serikat harus menyalahkan dirinya sendiri, bukan China, atas hilangnya lapangan kerja di Negeri Paman Sam itu. Ia mengatakan, hal tersebut diakibatkan karena kesalahan strategi yang dilakukan AS.

Melalui sebuah pernyataan yang ia gunakan sebelumnya, Ma membandingkan Alibaba dengan Amazon.com, perusahaan e-commerce multinasional raksasa asal Amerika Serikat.

Ia mengatakan, Alibaba mencoba untuk menggunakan teknologi yang dimilikinya untuk memberdayakan bisnis kecil. Sedangkan ia menyebut Amzon berusaha memiliki setiap aspek dalam bisnisnya.

Ma juga mengatakan bahwa AS menghabiskan banyak uang dalam konflik luar negeri dan berinvestasi sangat besar di Wall Street, dibandingkan dengan bekerja yang dapat memberikan manfaat untuk rakyatnya sendiri.

Dilansir China Daily, Ma mengatakan bahwa dalam 30 tahun AS telah terlibat dalam 13 perang dan menghabiskan lebih dari USD 14,2 triliun. “Anda seharusnya mengeluarkan uang untuk rakyat Anda sendiri. Kita seharusnya menghabiskan uang untuk mereka yang kurang beruntung di sekolah,” ujar Ma.

Ketika menanggapi pertanyaan soal globalisasi yang diajukan pembawa berita CNBC dan kolumnis New York Time, Andrew Ross Sorkin, Ma mengatakan bahwa globalisasi perlu dibenahi dan harus inklusif. “Ini yang ingin Presiden Donald Trump perbaiki,” ujar Ma.

“Ratusan tahun yang lalu, globalisasi dikontrol oleh sejumlah kerajaan dan kekaisaran. Dalam 30 tahun terakhir, globalisasi dikendalikan oleh 60.000 perusahaan besar. Apa jadinya jika kita dapat membantu 20 juta bisnis kecil untuk melakukan perdagangan antar batas dalam 30 tahun ke depan?” jelas Jack Ma. (lp6)