ITS Unggulkan 300 Proposal PKM untuk Pimnas 2019

ITS Unggulkan 300 Proposal PKM untuk Pimnas 2019

Dhany Arifianto.foto:ist

ITS terus berupaya membenahi diri untuk menghadapi ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-32 tahun 2019 ini. Bahkan ITS optimistis mengunggulkan sebanyak 300 dari total 545 proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang telah diajukan pada 21 Januari lalu untuk lolos pendanaan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Segera setelah Pimnas ke-31 tahun 2018 berakhir, tim pengawalan PKM di ITS langsung membuka program Pimnas in Campus. Program ini ditujukan bagi seluruh cabang atau kategori untuk mengejar ketertinggalan yang disebabkan oleh penurunan peringkat ITS di Pimnas 2018 lalu. Setelah evaluasi besar-besaran, ITS melakukan berbagai perbaikan terkait teknis dan metode bimbingan proposal karya tulis mahasiswanya. 

Kepala Subdirektorat Pembinaan Aktivitas Mahasiswa ITS, Dr Dhany Arifianto ST MEng, mengaku sangat menyadari bahwa ada banyak kekurangan saat proses pembuatan proposal. Oleh karenanya, meski saat presentasi di Pimnas kontingen ITS telah memberikan hasil yang sangat baik, namun saat dikalkulasikan nilai akhir jatuh karena proposal yang tidak dapat direvisi lagi itu. 

“Untuk menyikapi hal tersebut, kami (tim koordinasi PKM ITS, red) bersama-sama akan mengawal secara ketat proses pembuatan proposal PKM tahun ini, bahkan saat masih baru berupa ide,” tutur Dhany. 

Meskipun telah menjalankan berbagai perbaikan, Dhany mengakui pada tahun ini permasalahan yang berbeda muncul. Di antaranya berupa ketidakcocokan penerapan timeline tahun lalu dengan sekarang. Hal ini dipersulit oleh tanggal submit PKM di website simbelmawa yang bertepatan dengan jadwal libur semester.

“Kondisi tersebut membuat banyak mahasiswa tidak dapat mengikuti kegiatan pengawalan di kampus ITS, karena sedang berada di luar kota atau pulang ke kampung halamannya,” ungkap dosen Teknik Fisika ITS ini. 

Ada yang berbeda di Pimnas tahun ini yang rencananya digelar pada bulan Agustus mendatang, yakni adanya sebuah cabang PKM baru bernamakan PKM Gagasan Futuristik Konstruktif (GFK) yang menggunakan platform YouTube sebagai media penyaluran informasi.

“Potensi akan era digital yang berkembang pesat hampir di seluruh kalangan masyarakat merupakan pencetus hadirnya PKM ini,” jelas Dhany. 

Untuk sementara waktu, kata Dhany, media sosial selain platform YouTube seperti Instagram, Facebook dan lain-lain tidak digunakan. “Nantinya proposal yang dinilai layak akan diberi insentif sebesar Rp 4 juta oleh Kemenristekdikti,” ujarnya.

Menurut Dhany, PKM-GFK ini pada dasarnya bertujuan untuk memberikan motivasi akan partisipasi mahasiswa dalam mengelola imajinasi, persepsi dan nalarnya. Selain itu, juga memikirkan tata kelola yang futuristik namun konstruktif, sebagai upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia maupun solusi keprihatinan masyarakat Indonesia. 

Oleh karenanya, ITS mendorong sumber daya yang ada di departemen Desain Komunikasi Visual dan Arsitektur untuk ikut serta menyemarakkan peluncuran PKM baru ini. Kedua departemen tersebut difokuskan karena telah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk memenuhi kriteria PKM-GFK.

“Selain itu, para mahasiswanya telah memiliki banyak produk baik jadi maupun setengah jadi yang berasal dari penugasan mata kuliahnya,” imbuh pria berkacamata ini. 

Kompetisi perdana PKM-GFK tahun 2019 ini memiliki tema besar Sustainable Development Goals 2015-2030 yang mencakup 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang wajib ditaati semua negara di dunia. Selain isu global, permasalahan nasional seperti korupsi, narkoba, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bencana alam, dan bahasa daerah juga memperbanyak koleksi pilihan topik bahasan bagi peserta PKM-GFK nantinya.(wh)