ITS Suplai Hand Sanitizer ke Fasyankes

ITS Suplai Hand Sanitizer ke Fasyankes

foto: humas its surabaya

Tingginya kebutuhan hand sanitizer akibat pandemi virus Corona atau Covid-19, menyebabkan cairan antiseptik ini menjadi langka di pasaran. Berlatar belakang hal itu, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) memerintahkan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 ITS untuk memproduksi sendiri hand sanitizer yang memenuhi standar World Health Organization (WHO) untuk disuplai terutama ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Susi A Wilujeng MT, Kepala Unit ITS Smart Eco Campus, menjelaskan bahwa produksi hand sanitizer ini merupakan lanjutan dari produksi sebelumnya yang hanya difokuskan untuk penggunaan internal di lingkup kampus saat wisuda. Kini, produksi hand sanitizer dilakukan oleh Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 ITS divisi penyediaan hand sanitizer yang diketuai oleh Prof Dr Hamzah Fansuri MSi selaku Dekan Fakultas Sains dan Analitika Data ITS.

Susi mengaku, produksi hand sanitizer ini kian meningkat dengan konsep donasi-produksi-kontribusi. Tim produksi ini terdiri dari beberapa dosen Departemen Kimia, Departemen Teknik Kimia, dan Departemen Teknik Lingkungan. Sampai dengan Selasa (7/4) lalu, ITS telah menyuplai hingga ke 13 rumah sakit, 34 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), 10 klinik, 3 yayasan sosial seperti yayasan kanker dan panti werda, hingga turut disumbangkan pada Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya.

“Hand sanitizer buatan ITS ini juga telah didistribusikan hingga ke luar kota Surabaya, seperti ke Sidoarjo, Gresik, Bojonegoro, hingga Jawa Tengah, Brebes. Bahkan dipesan oleh alumni ITS untuk dibawa ke Sangata, Kalimantan,” ungkap Susi yang juga anggota tim Satgas Covid-19 ITS divisi produksi hand sanitizer ini.

Dalam proses produksinya, dosen Departemen Teknik Lingkungan ini mengaku, enam mahasiswa Departemen Kimia turut menjadi relawan untuk membantu. Akibat sinergi yang baik antar tiap elemen di kampus ini, ITS dapat memproduksi rata-rata 200-300 liter hand sanitizer tiap harinya. “Per Selasa ini (7/4), produksi hand sanitizer ITS telah mencapai 2.200 liter dan bukan tidak mungkin bisa menyentuh angka 5.000 liter sampai minggu depan,” beber Susi.

Lebih lanjut, Susi menerangkan bahwa hand sanitizer yang diproduksi di Gedung Pusat Robotika ITS ini mendapat kemudahan bahan baku, sebab adanya kerja sama antara ITS dengan beberapa perusahaan yang juga dimiliki alumni ITS, sebagai bagian upaya pencegahan meluasnya Covid-19. Oleh karena itu, ITS mendapat pasokan bahan baku dengan harga khusus karena bebas cukai. Selain itu, ITS yang menerapkan sistem donasi memudahkan para donatur dapat menyampaikan permintaan distribusi hand sanitizer ke fasyankes terkait.

Diungkapkan Susi, timnya memproduksi hand sanitizer sesuai dengan formula dari WHO. Bahan-bahan yang digunakan antara lain etanol dengan konsentrasi akhir 80 persen, hidrogen peroksida, gliserol, akuades, dan juga bisa ditambahkan minyak esensial. “Untuk dapat membunuh kuman dan virus dengan optimal, hand sanitizer harus mengandung kadar alkohol lebih dari 70 persen,” tandasnya.

ITS Suplai Hand Sanitizer ke Fasyankes
foto: humas its surabaya

Memaparkan fungsi bahan yang lain, Susi menyebut gliserol berperan dalam melembabkan tangan usai menggunakan hand sanitizer. Sementara itu, hidrogen peroksida berfungsi sebagai oksidator yang menonaktifkan kontaminasi virus dan bakteri, serta minyak esensial seperti daun mint yang berfungsi dalam memberikan sensasi dingin dan menenangkan pada tubuh.

Susi menekankan, meskipun produksi hand sanitizer sedang digencarkan saat ini, mencuci tangan dengan air dan sabun tetap menjadi pilihan terbaik apabila memungkinkan tersedia air bersih. Hand sanitizer hanya digunakan jika sedang dalam kebutuhan mendesak dan tidak memungkinkan pergi ke toilet untuk mencuci tangan seperti tenaga-tenaga medis yang bekerja di fasilitas layanan kesehatan maupun pasien yang datang. Meski begitu, hand sanitizer juga tetap dapat digunakan masyarakat umum jika memang sedang kesulitan mengakses air bersih maupun sabun, contohnya ketika bepergian.

“Harapannya, kebutuhan semua fasilitas layanan kesehatan untuk hand sanitizer yang memenuhi syarat WHO dapat terpenuhi dengan harga murah dan mudah diperoleh,” pungkasnya. (wh)