ITS Siapkan Anak Muda Indonesia Menjadi Pejuang Iklim

ITS Siapkan Anak Muda Indonesia Menjadi Pejuang Iklim
Foto: humas ITS Surabaya

Menjelang acara Conference of Parties (COP) ke-21 di Paris, Prancis yang akan merundingkan tentang perubahan iklim internasional, kian banyak acara bertemakan lingkungan hidup. Salah satunya Youth for Climate Camp (YFCC) 2015 yang akan digelar di Prigen, Jawa Timur selama tiga hari mulai Jumat (11/9/2015) ini.

Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dipilih sebagai tempat pembukaan acara yang dilakukan langsung oleh Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim (UKP-PPI) Prof Hons Ir Rachmat Witoelar bersama Rektor ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD.

“Sangat strategis kegiatan camp ini karena membidik anak muda. Jika anak muda memiliki komitmen yang sama dalam memperjuangkan iklim planet ini, maka bisa menjadi dorongan tersendiri bagi dunia,” papar Joni, saat memberi sambutan acara pembukaan YFCC, di Gedung Rektorat ITS Surabaya.

Khusus tahun 2015, YFCC memilih tema Agriculture and Climate Change. Acara yang diselenggarakan oleh The Climate Reality Project Indonesia ini melibatkan 60 mahasiswa dari berbagai universitas di Pulau Jawa. Bersama Kantor UKP-PPI dan didukung oleh Japan International Coorperation Agency (JICA), acara ini bertujuan mengajak generasi muda untuk menjadi penggerak aksi perubahan iklim di lingkungannya.

Rektor ITS yang berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan ini pun turut menyinggung status Indonesia dalam perubahan iklim dunia. Indonesia dikatakan sebagai negara dengan tingkat kerentanan bencana paling tinggi. Karena hal itu pula, Joni mendukung penuh acara YFCC 2015 ini sebagai upaya kesiapan diri menghadapi bencana akibat perubahan iklim dunia.

Sementara itu, Rachmat Witoelar memaparkan bahwa, Indonesia punya posisi tertentu dalam perubahan iklim dunia. Secara internal, ia menuturkan bahwa saat ini sedang dalam upaya pengurangan emisi lokal Indonesia sebesar 29 persen hingga tahun 2020 nanti. Di akhir sambutan pembukaannya, mantan Menteri Lingkungan Hidup RI  periode 2004-2009 tersebut menyampaikan kepada peserta YFCC, “Cintailah negaramu, maka kamu akan mencintai dunia,” serunya, lantas disambut tepuk tangan meriah para peserta.

Acara ini juga turut dihadiri Wali Kota Surabaya, Dr HC Ir Tri Rismaharini MT. Dalam pidato singkatnya, Risma menampilkan berbagai capaian pemerintah kota Surabaya dalam sektor lingkungan hidup. Mulai dari taman-taman kota, pembuatan lubang bipori, sampai pemberlakuan green building sebagai syarat izin bangunan di Surabaya.

“Dulu suhu udara di Surabaya panasnya bisa mencapai 35 derajat celcius, tapi sekarang sudah jauh lebih sejuk, paling tinggi hanya mencapai 32 derajat celcius dan itupun jarang terjadi,” tandasnya. (wh)