ITS Kembangkan Clean Energy dan Clean City di Surabaya

ITS Kembangkan Clean Energy dan Clean City di Surabaya

Dr Maria Anityasari ST ME dan Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD, foto: humas its surabaya

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Direktorat Hubungan Internasional semakin gencar mempersiapkan diri untuk menghadapi persaingan global menuju World Class University. Kali ini melalui program barunya yaitu Engineering Colleges Partnership Forum in Asia (ECPFA) 2019 yang melibatkan tiga institusi pendidikan sekaligus yaitu ITS, Kobe University dari Jepang, dan National Cheng Kung University (NCKU) dari Taiwan.

Kegiatan yang berlangsung pada 5 – 8 Agustus ini dibuka secara langsung di Gedung Rektorat ITS oleh Wakil Rektor IV ITS Bidang Inovasi, Kerjasama, Kealumnian, dan Hubungan Internasional, Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD. Melalui sambutannya, ia sangat berterima kasih atas kesediaan Kobe University dan NCKU dalam menghadiri program ini. “Harapannya, ada transfer ilmu dari kegiatan yang berjalan dan memperkuat kolaborasi antar institusi pendidikan ini ke depannya,” ujarnya.

Selain itu, Direktur Hubungan Internasional ITS, Dr Maria Anityasari ST ME mengatakan bahwa program ECPFA merupakan kelanjutan kerjasama dan komitmen dari konsorsium yang sudah diadakan di NCKU pada tahun sebelumnya. Terdapat enam perguruan tinggi termasuk ITS dan NCKU sebagai tuan rumahnya. Pada tahun ini, ITS didapuk sebagai tuan rumah dan berhasil menghadirkan 13 peserta mahasiswa dan sembilan profesor dari masing-masing universitas.

Untuk tahun ini, ECPFA mengusung tema yang berkaitan dengan pengembangan kota dan energi terbarukan yaitu Clean Energy dan Clean City. Forum ini juga diperkaya dengan kunjungan secara langsung ke Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.

Hal itu, menurut Maria, bertujuan untuk melihat proses pengelolaan sampah yang terpadu serta pemanfaatannya sebagai sumber energi listrik terbarukan. “Peserta diharapkan mampu mendapatkan ide-ide baru tentang bagaimana upaya Kota Surabaya menjadi kota yang bersih dan indah,” papar dosen Teknik Industri ini.

Lebih lanjut, Maria juga mengungkapkan, program ini akan menghadirkan beberapa agenda terpisah antara mahasiswa dengan profesor. Untuk mahasiswa sendiri akan ada pelatihan dalam hal pengembangan diri, sesi pembentukan karakter secara tim, dan kolaborasi antar mahasiswa dari tiga universitas terkait. Selain itu, mereka juga akan mempersentasikan hasil risetnya yang akan ditanggapi langsung oleh profesor dari Kobe University, NCKU, dan ITS.

Dalam pemaparannya, Maria mengatakan bahwa peran profesor di sini adalah untuk saling berkolaborasi dan memberikan tanggapan langsung terkait hasil diskusi dari peserta berdasarkan hasil kunjungannya ke Bappeko dan TPA Benowo. Selain itu, akan ada transfer ilmu di mana peserta akan melakukan kunjungan ke departemen dan laboratorium terkait di ITS. “Hal ini bertujuan untuk mempererat hubungan ITS dengan kedua universitas baik secara akademis maupun nonakademis,” tambahnya.

Di akhir, Maria mengatakan bahwa program ini diharapkan akan lebih membuka, memperkuat, dan meningkatkan hubungan antara ITS dan universitas peserta dalam konsorsium serta dapat memberikan dampak positif bagi ITS, Kota Surabaya, dan Indonesia. “Semoga komitmen ini dapat bertahan lebih jauh untuk ke depannya,” pungkasnya (wh)

Berikan komentar disini