ITS Inisiasi Pembuatan Platform untuk Pasarkan Paten Lokal

ITS Inisiasi Pembuatan Platform untuk Pasarkan Paten Lokal

Foto:humas its

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengadakan acara Sharing Session bertajuk Intelectual Property Right Empowerment Center (IPEC) di Gedung Rektorat ITS, Jumat (12/10/2018). Kegiatan ini merupakan inisiasi dari Wakil Rektor IV ITS bidang Inovasi, Kerja Sama, Kealumnian, dan Hubungan Internasional Prof Dr Ketut Buda Artana.

Dalam sharing session ini, Ketut mengatakan IPEC merupakan sebuah platform yang akan dibuat tim gabungan dari teaching class tentang industri 4.0 yang diselenggarakan oleh sebuah yayasan di Jakarta, yaitu United in Diversity (UID).

Tim tersebut beranggotakan Ketut sendiri sebagai wakil dari ITS; Executive General Manager Divisi Digital Service Telkom Arief Musta’in; Kepala Bagian Publikasi dan Dokumentasi, Sekretariat Jenderal , Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Dadan Nugraha; dan Ketua Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (Ainaki) Adrian Elkana.

Ia menjelaskan, IPEC yang akan dibuat ini bertujuan memberdayakan Intelectual Property (IP) lokal (Indonesia). Selain itu, dengan adanya IPEC ini nantinya juga diharapkan akan menciptakan marketplace, di mana antara mereka yang menghasilkan paten dan mereka yang memanfaatkannya akan dipertemukan dalam satu platform ini.

Pada sharing session ini juga mengundang berbagai pemerhati IP di Surabaya, mulai dari lingkungan perguruan tinggi yaitu dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), dan juga para pelaku industri yang salah satunya Mohammad Sholikin atau Cak Ikin selaku pemilik IP Kartun Suroboyo, serta para mahasiswa dan dosen di lingkup ITS.

“Mereka sengaja kami undang agar dapat memberikan masukan kepada IPEC, dan kami akan mendata segala saran dari mereka, salah satunya masalah yang mereka hadapi selama menjadi pemilik IP,” paparnya.

Alumni doktor dari Kobe University, Jepang tersebut juga menjelaskan bahwa pendidikan tentang IP atau HAKI baik di lingkup pendidikan maupun masyarakat masih sangat kurang. Oleh karena itu, dengan adanya platform IPEC ini nantinya selain untuk membuka market place bagi para wirausaha di bidang IP lokal, juga dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat atas IP lokal ini.

“Kami sepakat untuk mengangkat topik tentang pemberdayaan kekayaan intelektual, dasarnya kita (Indonesia, red) memang punya riset dan paten lumayan banyak, tetapi yang termanfaatkan masih sedikit. Industri banyak tapi tidak punya research and development-nya,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, keadaan tersebut menunjukkan bahwa ada peluang untuk menyuplai kebutuhan industri terhadap paten-paten lokal yang ada, sehingga IPEC ini digagas untuk menjawab persoalan tersebut. Selama ini kondisinya para pemilik IP kesulitan dalam memasarkan produk mereka, dan industri juga kesulitan untuk mencari informasi IP lokal. “Hal itu menyebabkan industri di Indonesia banyak memakai IP luar negeri,” tandasnya.

Berikan komentar disini