ITS Digandeng PT PAMA Launching Program Internship

ITS Digandeng PT PAMA Launching Program Internship

foto: humas its surabaya

Seiring berkembangnya zaman, kini dunia industri membutuhkan kompetensi karyawan yang inovatif dan mumpuni. Guna mewujudkan hal ini, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) digandeng oleh perusahaan pertambangan PT Pamapersada Nusantara (PAMA) melakukan launching Program Pama Exclusive Internship (PEXI) di Gedung Pusat Robotika ITS, Selasa (25/2).

Mengangkat tema Pendidikan dan Sumber Daya Manusia yang Kompetitif di Era Revolusi Industri 4.0, helatan ini juga menghadirkan Wali Kota Surabaya Dr (HC) Ir Tri Rismaharini MT untuk memberikan materi. Dalam sambutannya, orang nomor satu di Surabaya itu sangat mengapresiasi program yang diluncurkan tersebut.

Wali kota dengan segudang penghargaan internasional ini juga mengaku bahwa dirinya sebagai wakil Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya siap menerima berbagai bentuk kerjasama dengan ITS, terutama terkait program magang maupun rekrutmen pekerja. Sebab, dari 21.000 Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkot Surabaya yang direkrutnya dahulu, kini hanya tersisa kurang dari 12.000 pegawai.

“Perbandingannya sekarang 1.885 masyarakat hanya dilayani satu orang PNS. Kita (Pemkot Surabaya, red) sebenarnya butuh pegawai dan teknologi yang menunjang,” sambung peraih penghargaan Wali Kota Terbaik Dunia tahun 2014 dari Citymayors.com ini.

Alumnus S1 Arsitektur ITS ini melanjutkan, agar memiliki kompetensi yang mumpuni, mahasiswa harus memiliki beberapa hal. Di antaranya harus tetap tekun dengan apapun yang dijalani, berani mengambil langkah solutif, serta tetap menghargai orang lain.

“Saya selalu belajar dari siapapun, dari tukang sapu jalanan hingga hewan sekalipun. Seperti bagaimana seekor semut berusaha bertahan hidup dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya,” tutut perempuan yang pernah didapuk menjadi pembicara di sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), September lalu ini mencontohkan.

Sementara itu, Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng dalam sambutannya mengatakan bahwa program internship ini sangat sesuai dengan visi ITS hingga 2025, yakni sebagai Entrepreneurial University. Dengan visi tersebut, program ini selaras dengan target ITS untuk melahirkan para saintis, ahli, pengusaha, ataupun mencetak produk-produk yang berguna bagi masyarakat luas.

“Dalam visi ITS, terdapat satu kata kunci utama, yaitu inovasi. Ini yang harus dikembangkan agar dapat mencapai kelas dunia dan dapat berkontribusi untuk pembangunan bangsa,” tutur Guru Besar Teknik Elektro ITS ini.

Terkait program internship, lanjut rektor yang kerap disapa Ashari ini, hal tersebut sejalan dengan salah satu poin dari program Kampus Merdeka yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), yakni adanya pemberian hak bagi mahasiswa untuk mengambil pembelajaran di luar kampus selama tiga semester atau sekitar 60 Satuan Kredit Semester (SKS).

“Jadi andaikan mahasiswa magang di sebuah perusahaan tidak perlu mengajukan cuti, tapi nanti akan diekivalensikan dengan SKS pada bidang-bidang studi yang terkait,” ucap dosen kelahiran Sidoarjo ini.

Senada dengan Ashari, Human Capital General Services (HCGS) and Safety Health Environment (SHE) Director PT PAMA Ari Sutrisno mengatakan, salah satu alasan PT PAMA memilih ITS sebagai tempat launching karena kemampuan mahasiswa ITS yang dinilai mumpuni di bidangnya.

Lebih lanjut, Ari mengungkapkan, mahasiswa ITS dinilai memiliki etos kerja yang tinggi dan kemampuan pendekatan ilmiah (scientific approach) yang baik. “Hal itu dibuktikan saat kami (PT PAMA, red) bekerja sama untuk pengelolaan limbah dengan Departemen Teknik Lingkungan ITS dahulu, dan hasilnya ITS memiliki tingkat loyalitas tertinggi kedua yaitu sebesar 83 persen,” ujar lelaki kelahiran 1971 ini.

Sementara itu, didapuk sebagai pembicara terakhir, Guru Besar Teknik Elektro ITS Prof Dr Ir Achmad Jazidie MEng menambahkan bahwa tak hanya mahasiswa yang harus berkembang, namun perguruan tinggi juga perlu melakukan perkembangan. Dengan adanya kebijakan serta program-program baru, perguruan tinggi harus dapat menganalisa dan mendesai kurikulum yang sesuai.

“Seperti pada program internship yang diekivalen dengan mata kuliah, perguruan tinggi harus menyusun kurikulum secara tepat, mata kuliah apa saja yang terkait dengan bidang tersebut,” ujar dosen yang juga dipercaya sebagai Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini.

Selain seminar pendidikan, kegiatan ditutup dengan Stand-Up Comedy sebagai hiburan di penghujung acara. Berisikan subacara yang menarik sekaligus edukatif seputar dunia kerja, acara ini berhasil menghadirkan lebih dari seratus mahasiswa ITS yang dominan merupakan mahasiswa semester akhir. (wh)