ITS Bahas Persiapan Pemindahan Ibu Kota Bareng Alumni

ITS Bahas Persiapan Pemindahan Ibu Kota Bareng Alumni

foto:humas its

Rencana pemindahan ibu kota negara Indonesia memancing respons sejumlah kalangan untuk memberikan sumbangsih pemikiran. Seperti dilakukan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Alumni Teknik Sipil ITS (ALSITS) dengan menggelar Seminar Diseminasi dalam Persiapan Pembangunan Ibu Kota Negara di Gedung Research Center ITS, Senin (30/9/2019).

Ada tiga topik utama yang dibahas, yakni latar belakang, tahap penentuan lokasi, konsep, dan peran ITS dalam pemindahan dan pembangunan ibu kota baru Indonesia. Forum diskusi ini diisi empat pembicara utama, yakni  Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya Dr Ir Danis Hidayat Sumadilaga MEng Sc, Dirjen Tata Ruang Dr Ir Abdul Kamarzuki MPM, Deputi Kepala Bappenas Bidang Pengembangan Regional Ir Rudy Soeprihadi Prawiradinata MCRP PhD, dan Guru Besar ITS Prof Ir Joni Hermana MScES PhD.

Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng berharap agar para mahasiswa dan alumni ITS dapat mengetahui peran masing-masing individu dan instansi dalam persiapan pembangunan dan pemindahan ibu kota negara. “Pindah tanggal saja ributnya tidak karuan, apalagi pindah ibu kota negara,” ujar rektor yang karib disapa Ashari ini.

Pemindahan ibu kota yang merupakan proyek terbesar ini, menurut Ashari, harus disambut berbagai kajian mendalam yang harus sesuai kondisi masa kini. “Termasuk kajian tentang teknologi. Sebab sekarang trend-nya adalah Revolusi Industri 4.0,” papar guru besar Teknik Elektro ITS ini.

Danis Hidayat Sumadilaga memaparkan, ada banyak sekali alasan yang mendukung pemindahan ibu kota, salah satunya adalah mega-urbanisasi. Pada prinsipnya, urbanisasi dapat menguntungkan jika direspons baik dan cermat. “Namun jika tidak, akan membawa kerugian besar,” tutur Danis .

Dalam presentasinya, Danis memamaparkan Tiongkok dengan penambahan satu persen pertumbuhan penduduk dapat meningkatkan tiga persen PDB per kapita. Di Asia Timur sendiri, rata-rata penambahan PDB bagi setiap satu persen pertambahan penduduk adalah 2,7 persen. Namun, pertambahan PDB per kapita di Indonesia hanya 1,4 persen.

Padahal, lanjut Danis, dengan luas wilayah 1,9 juta kilometer persegi berisikan kekayaan bumi dan maritim, Indonesia seharusnya dapat memaksimalkan potensi yang lebih dari angka 1,4 persen. “Hal ini tak lain dan tak bukan adalah salah satu buntut kesenjangan ekonomi antara daerah di Jawa dan luar Jawa,” ujarnya.

Menurut data yang disampaikan Danis, pada tahun 2045 sebanyak 70 persen penduduk dunia bertempat tinggal di kota. Menurut proyeksi, konsentrasi penduduk paling besar akan tetap berada di Pulau Jawa. Konsentrasi yang menumpuk di Jawa akibat urbanisasi ini bahkan sudah lama menimbulkan isu lingkungan terkait daya dukung air dan lahan.

Merespon segala permasalahan di Indonesia tersebut, maka dibuatlah strategi meningkatkan pemerataan pembangunan. Pemindahan ibukota sendiri adalah salah satu caranya. Selain pemindahan ibukota, pemerintah juga membuat beberapa perencanaan pembangunan baru, seperti pembentukan 10 metropolitan baru, kota-kota baru, Kawasan Ekonomi Khusus dan Kawasan Indonesia, serta pembentukan 10 Bali baru.

Mengenai isu pengabaian Jakarta sendiri, Danis menegaskan bahwa itu tidak benar. “Kita tidak meninggalkan Jakarta, justru kita memperbaikinya,” tandasnya. Hal ini disampaikan mengingat Jakarta yang dirundung berbagai permasalahan yang kompleks. Bahkan, pada tahun 2017 saja, Jakarta menempati peringkat 9 sebagai kota terpadat di dunia.

Sedang mengenai konsep masa depan ibu kota sendiri, dengan tegas Deputi Kepala Bappenas Bidang Pengembangan Regional Ir Rudy Soeprihadi Prawiradinata MCRP PhD menjelaskan, konsep yang akan dianut Indonesia adalah forest city. Perihal penebangan hutan sendiri, masyarakat diharapkan untuk tidak khawatir, sebab konsep forest city bukanlah hutan dalam kota melainkan kota dalam hutan. “Hal ini berarti hutannya akan terjaga,” ujarnya.

Rudy mengatakan, pemerintah juga membuka peluang bagi masyarakat dari segala kalangan dan usia untuk merumuskan ide desain ibu kota baru impian yang berlangsung mulai bulan September 2019 hingga Oktober 2020. “Sayembara ini diadakan untuk mengingatkan kita kembali bahwa ibukota masa depan adalah milik kita bersama,” tutur Rudy.

Sementara itu, ITS sebagai institusi pun ikut mengkaji topik pemindahan ibukota ini. Hal tersebut diungkapkan oleh mantan Rektor ITS periode 2015-2019. “Saat topik pemindahan ibu kota ini mencuat, kami dengan sigap mengumpulkan para ahli yang berkompeten di ITS untuk melakukan diskusi,” akunya.

Hasilnya, menurut Joni, masih ditemukan beberapa pekerjaan rumah (PR) untuk pemerintah pusat. Salah satunya terkait belum adanya payung hukum bagi proyek pemindahan ibukota. “Padahal, hal ini sangat penting jika pemerintah benar-benar serius menjalankan revolusi besar-besaran untuk memudahkan pembangunan itu sendiri,” ujar pria kelahiran Bandung ini.

Selain itu, lanjut Joni, pemerintah dan perencana juga harus bercermin dari pengalaman bangsa Indonesia sendiri. “Selama 74 tahun kita merdeka, timbul pertanyaan mengapa tidak ada satu pun kota yang mampu menjadi role model utama pembangunan di Indonesia?” tanya Guru Besar Teknik Lingkungan itu.

Lebih lanjut, Joni beserta tim diskusi menduga akar permasalahannya adalah pembangunan yang berbasis di darat, padahal Indonesia adalah negara kepulauan. Oleh karenanya, ITS berharap agar momen pemindahan ibu kota dan perombakan sistem besar-besaran ini ikut mementingkan identitas Indonesia sebagai negara berbasis maritim.

Joni mengutarakan, ITS juga memimpikan desain Indonesia yang berbasis pembangunan modern. “Mengapa? Karena yang akan menempati ibu kota serta wajah Indonesia yang baru adalah generasi muda milenial,” tegasnya mengingatkan.

Selain paparan dari para ahli, Wakil Gubernur Provinsi Jawa Timur Emil Elestianto Dardak juga hadir untuk memberikan pandangannya sebagai perwakilan kepala daerah. Emil meyakini bahwa Indonesia bisa dibangun dengan konsep nusantara sentris. “Artinya, bagaimana kita mendorong pertumbuhan yang bukan zero sum game, yang mana kalau Kalimantan maju maka Jawa kalah,” paparnya.

Justru menurutnya, dengan Kalimantan sebagai lokasi dari ibu kota baru dapat membuat Jawa semakin maju. “Namun, hal tersebut bisa terjadi jika kita membentuk sebuah format ekonomi regional yang mengedepankan sinergi lintas kepulauan ini,” pungkasnya. (wh)