Ironis, Mamin Berformalin Masih Banyak Beredar di Surabaya

 

Ironis, Mamin Berfomalin Masih Banyak Beredar di Surabaya

Memasuki minggu kedua bulan Ramadan membuat para produsen makanan dan minuman (Mamin) menjamur di Surabaya. Mirisnya, kurangnya pengawasan membuat banyak mamin beredar diduga mengandung formalin dan zat pewarna.

Seperti diungkapkan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya, hampir di seluruh pasar tradisional Surabaya masih banyak dijumpai mamin berformalin maupun memakai zat pewarna.

“Saya menemukan banyak mamin yang mengandung zat pewarna. Tidak hanya itu, banyaknya makanan impor yang tidak terdaftar juga berindikasi makanan tersebut kedaluarsa. Pada 2013 lalu, saya sering menemukan makanan kedaluarsa di sejumlah pasar tradisional,” ungkapnya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (11/7/2014).

Bahkan dari temuan Kresnayana terungkap jika tiga bulan sebelum masa kedaluarsa, perusahaan mamin biasanya akan melakukan obral besar-besaran. “Itu terjadi di supermarket. Hal ini sangat berbahaya,” katanya.

Fenomena itu, terang Kresnayana, sering terjadi di wilayah padat penduduk seperti Surabaya Utara dan Surabaya Timur. “Saat ini masyarakat harus waspada. Banyak laporan dari dua wilayah tersebut,” cetusnya.

Menurut dia, pemerintah perlu segera bertindak dengan terus melakukan inspeksi di supermarket maupun di pasar tradisional. Bahkan, seharusnya Dinas Kesehatan lebih berperan aktif dengan menempatkan dokter di setiap pasar. “Fungsinya untuk mengawasi setiap mamin yang dijual di pasar tersebut,” ujarnya.

Ia mencontohkan dengan apa yang dilakukan salah satu perusahaan swalayan di Surabaya, Carrefour.  Mamin yang diambil dari tiap industri kecil harus melewati seleksi dan screener  yang sangat ketat. “Kebetulan saya ikut mengecek barang-barang di lapangan. Idealnya, pasar tradisional bersama BPOM (Balai Pengawasan Obat dan Makananan), dan Dinkes melakukan screening dan sertifikasi mamin,” mintanya.

Di sisi lain, Kasi Layanan Informasi BPOM Surabaya Eni Zuniai juga mengamini jika masih banyak ditemukan mamin yang mengandung zat berbahaya maupun zat pewarna. “Untuk itu kita sudah kerjasama dengan instansi terkait. Seperti dinas perikanan dan dinas kesehatan,” tegasnya.

Kendati BPOM memantau di lapangan secara langsung, namun BPOM tak dapat menindak jika ditemukan mamin yang mengandung zat berbahaya. “Biasanya akan kami laporkan pada Dinas Kesehatan,” tambah Eni.

Kepala Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Said Utomo menegaskan, sampai saat ini belum ada jaminan masyarakat untuk mengonsumsi mamin yang dijual secara aman. “Bahkan konsumen juga tidak tahu apakah mamin itu aman atau tidak,” tuturnya.

Dia mencatat dari pengaduhan yang sering dikirimkan masyarakat kepadanya. Sekarang zat pewarna pun digunakan pada makanan jenis buah-buahan.

”Beberapa waktu yang lalu masyarakat mengadu ditemukannya zat pewarna di semangka. Lalu saya laporkan ke Disperindag (Dinas Perdagangan dan Perindustrian Surabaya),” ungkapnya. (wh)