Ironi Kesejahteraan Petani

Ironi Kesejahteraan Petani

 

*Agus Wahyudi (aguswahyudi1972 @gmail. com )

Butuh energi lebih menumbuhkan optimisme di tengah kegelisahan masyarakat meningkatkan usaha. Pasalnya, hingga sekarang, pelaku usaha masih dilanda kecemasan menyusul belum stabilnya pasar akibat belum stabilnya kondisi ekonomi global

Tak terkecuali di sektor pertanian. Mayoritas petani di Indonesia belum merasakan kesejahteraan. Mayoritas kehidupan mereka juga pas-pasan. Saking rapuhnya, tak sedikit petani kemudian beralih profesi untuk menyelamatkan periuk nasinya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2013 dari Hasil Sensus Pertanian mencatat penurunan jumlah rumah tangga di sektor pertanian. BPS mencatat jumlah rumah tangga usaha pertanian sebanyak 26,13 juta, menurun dibandingkan tahun lalu sebanyak 31,17 juta atau turun 5,04 juta. 

Rata-rata penurunannya sebesar 1,75 persen per tahun. Survei BPS juga menemukan pergeseran komposisi jumlah petani dari Pulau Jawa ke luar Pulau Jawa. Provinsi yang mengalami kenaikan terbesar jumlah petani adalah Papua sebanyak 158,1 ribu dan yang terkecil di Maluku Utara sebanyak 1.000 rumah tangga. Penurunan terbesar di Jawa Tengah sebanyak 1,47 juta rumah tangga dan di Bengkulu sebanyak 350 ribu rumah tangga.

Penurunan jumlah petani berbanding terbalik dengan perusahaan sektor pertanian. Jumlahnya mengalami kenaikan dari 2003 hingga 2013. Pada 2003, jumlah perusahaan pertanian tercatat 4.011, lalu naik sebanyak 5.486 tahun ini atau  naik 36,77 persen.

Fakta lain, sampai saat ini devisa negara dari ekspor produk pertanian masih terbatas. Produk-produk pertanian belum mampu bersaing dengan produk-produk pertanian negara-negara lain, seperti Jepang, Korea, Thailand, dan Malaysia. Malah sebaliknya, pasar domestik mulai dikuasai produk-produk pertanian luar negeri. Kualitas yang mereka memiliki lebih baik dan harga yang bersaing.

Sejatinya, kita belum banyak mengoptimalkan produk-produk pertanian yang dihasilkan para petani. Padahal, jika ada peningkatan petani, otomatis pendapatan pemerintah daerah dan pemerintah pusat, juga bertambah. Kondisi itu bisa dilakukan bila ada keselarasan kebijakan dan kegiatan, sejak tahap praproduksi, produksi, hingga pascapanen. Termasuk penyimpanan dan pengangkutan.

Para petani dituntut selalu meningkatkan dan mempertahankan kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan. Ini agar mereka punya daya saing tinggi. Petani juga harus dapat menjamin kontinuitas pasokan produk ke pasar sesuai permintaan konsumen. Tanpa itu, petani tak bakal mampu menembus pasar yang lebih luas.

Itu sebabnya, harus ada klasifikasi yang jelas dan terukur. Klasifikasi tersebut menyangkut beberapa hal. Pertama, adanya peraturan, prosedur, dan rambu-rambu pengelolaan. Kedua, sumber daya manusia (SDM) yang terlatih dan profesional. Ketiga, terkait mentalitas birokrasi yang terlibat dalam pengelolaan, baik manajerial maupun pemangku kebijakan. Keempat, strategi meningkatkan jumlah kedatangan pembeli dan memberinilai tambah buat petani. Kelima, membantu petani agar bisa memasarkan produknya dengan harga lebih baik.

Belum Ideal

Berdasarkan data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), 13.450 pasar tradisional dengan 12,6 juta pedagang ada di Indonesia. Nilai aset keseluruhan sebesar Rp 65 triliun.

Keberadan pasar-pasar tradisional tersebut sebagian besar menampung produk-produk pertanian. Hanya untuk memformat sebagai pasar petani (farmer market) belum ideal. Di mana, pasar pasar yang menjual komiditi secara langsung dari produsen (petani) ke konsumen tanpa banyak perantara. Dengan begitu, margin laba yang diterima petani menjadi lebih besar. Di sisi lain, keuntungan konsumen akan mendapat sesuatu yang segar, produk berkualitas tinggi, dan kesempatan berinteraksi langsung dengan produsen.

Ada beberapa persyaratan harus dipenuhi, di antaranya pasar petani mudah terlihat, mudah diakses dengan parkir memadai, serta ruang untuk ekspansi. Juga memberikan kesempatan bagi produsen besar atau kecil menjual langsung ke masyarakat, membangun loyalitas pelanggan dengan memberitahu dan memperluas penawaran, mengganti barang yang rusak, memberikan informasi berguna tentang produk yang dijual, serta memonitor dan evaluasi berkala terkait produk-produk yang dipasarkan.

Selain itu, pasar petani butuh kerja sama yang memfokuskan pada kelebihan-kelebihan komparatif. Dimana, melalui jaringan petani bisa mengkhususkan diri  memproduksi barang-barang hasil pertanian yang segar dan berkualitas tinggi, aneka kebutuhan hasil pertanian yang lengkap dan murah untuk dikonsumsi masyarakat.

Selanjutnya perlu dilakukan adalah stabilizing. Untuk menstabilkan kondisi pasar petani, dibutuhkan bukan sekadar daya tarik yang dapat mengundang petani dapat menyalurkan barangnya, pedagang yang memasarkan barang dari petani, tapi juga pembeli yang mendapat barang berkualitas. Untuk hal itu, dibutuhkan dua hal. Pertama, kemampuan pasar petani menyerap hasil-hasil dari petani. Bukan hanya hasil-hasil terbaik, tapi juga yang kurang baik. Dari barang hasil pertanian tingakat tinggi yang mengacu pada tabel harga, pemanfaatan pasar-pasar horeka (hotel, restoran, katering), hingga pasar ritel dan pedagang rengkek (mlijo).

Stabilisasi harga komoditas pertanian tersebut harus dilakukan melalui mekanisme lelang. Harga lelang kemudian menjadi harga rujukan yang akan diterima petani. Dengan mekanisme tersebut, harga yang diterima petani menjadi stabil. Konsumen bisa membeli langsung di pasar. Petani tak lagi tergantung kepada tengkulak. Margin laba yang diterima petani menjadi lebih besar. Mutu komoditas pertanian pun terjaga dan terus dipantau.

Mestinya, ada keterlibatan pemerintah dalam produksi massa pertanian bisa dikelola secara corporate farming. Hal ini untuk mendorong konsolidasi pengusaan lahan usaha tani dengan tetap menjamin kepemilikan lahan pada masing-masing petani. Pola ini digunakan untuk memenuhi efisiensi, meningkatkan produktivitas, dan mendongkrak pendapatan petani.

Nilai Tukar Petani

Kegairahan pasar petani sangat ditentukan kepentingan dan keuntungan yang akan diperoleh petani. Selama ini, petani lebih memilih menjual barangnya ke tengkulak karena tak ingin terbebani biaya kalau harus berjualan di pasar induk. Sederhananya, petani ingin mendapatkan pendapatan besar dan mengurangi biaya pengeluaran.  Oleh sebab itu, perlu terobosan kreatif dengan menggandeng pihak yang memiliki logistik dan perdagangan berskala nasional/internasional yang berkompeten. Keberadaan logistik dan perdagangan tersebut akan merangsang petani, pedagang, dan pembeli datang ke pasar petani.

Model yang ditawarkan, pihak logistik memberi kartu diskon bagi petani yang mau menjual barangnya di pasar petani. Para petani yang memiliki kartu tersebut bisa mendapatkan barang-barang segar dengan kemasan khusus dan grocery food yang dijual pihak di logistik. Dengan begitu, petani akan mendapat keuntungan lebih, dimana mereka bisa menjual barangnya di pasar petani, pulangnya bisa membawa barang-barang segar dari pihak logistik yang dijual lebih murah dari harga di pasaran.

Adanya pihak logistik dan perdagangan ini juga bisa jembatan bagi petani. Selama ini, para petani makin terpinggirkan dan tidak punya akses dalam perdagangan. Mereka tak berdaya dengan harga barangnya yang bisa seenaknya dimainkan tengkulak.(*)

*Pemimpin Redaksi enciety.co