Ironi Harga Kepiting yang Kian Melangit

Ironi Harga Kepiting yang Kian Melangit

Fajar Haribowo, Peneliti Senior Enciety Business Consult

Tak salah jika Anda pengemar berat kepiting. Karena, menurut Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), di Tiongkok makan lobster bertelur dan kepiting bertelur dipercaya akan menambah kekayaan.

Namun sayang, kini Anda harus merogoh kocek dalam-dalam atau bahkan tak akan lagi bisa makan kepiting bertelur. Pasalnya, Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengkampanyekan larangan mengonsumsi kepiting dan lobster bertelur di Indonesia. Alasannya, dengan tidak mengonsumsi satu kepiting maupun lobster bertelur, bisa menyelamatkan lima juta ton kepiting.

KKP membatasi penangkapan tiga spesies perikanan penting, yakni lobster (panulirus spp.), kepiting (scyla spp.), dan rajungan (portunus pelagicus spp.). Pembatasan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.1/2015. Setiap orang dilarang menangkap tiga spesies tersebut dalam kondisi bertelur.

Tampaknya, kepiting tak hanya gurih di pasar lokal, namun juga di pasar ekspor. Berdasarkan data KKP, ekspor kepiting dan produk olahannya mencapai 19.786 ton pada Januari-Juni 2013. Volume ekspor ini meningkat 25,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 15.733 ton.

Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Amerika Serikat menjadi pasar ekspor kepiting terbesar dengan volume ekspor 5.711 ton senilai USD 104,7 juta atau Rp 1,193 triliun. Namun, tren kenaikan terbesar justru ke pasar Tiongkok.

Masih berdasarkan data AP5I, pada tahun 2010, volume ekspor kepiting ke China tercatat baru 967 ton senilai USD 2,1 juta. Sejak 2011, volumenya melonjak 350 persen menjadi 4.379 ton senilai USD 16,0 juta. Dan angka ekspor kepiting ke China hingga Juni 2013 volumenya meningkat 94,25 persen dibandingkan tahun 2012, yakni menjadi 8.861 ton. (efh)