IPO Alibaba Kalahkan Facebook

 

IPO Alibaba Kalahkan Facebook

Alibaba, perusahaan penyedia layanan iklan online asal China, sukses mencatatkan debutnya saat melantai di pasar modal Amerika Serikat pada 19 September 2014. Dari harga penawaran awal (Initial Public Offering/ IPO) sebesar USD 68, saham Alibaba ditutup menguat 38 persen atau USD 24 miliar menjadi USD 93,89 pada perdagangan akhir pekan.

Ini merupakan kenaikan saham perdana terbesar dalam sejarah pasar modal Amerika Serikat, mengalahkan Facebook dan Disney. Namun, hal ini perlu dicermati, mengingat anak usaha perusahaan yang berlokasi di Karibia tersebut masih memiliki sejumlah risiko.

Lemahnya dukungan induk perusahaan, kepemilikan saham yang dibayangi sistem kelas ganda, dan potensi konflik dengan regulasi industri TI pemerintah China yang sulit diprediksi masih membayangi prospek Alibaba ke depan. “Perusahaan memiliki semua daya tarik bagi investor dan broker, Alibaba seolah menjadi generasi penerus kesuksesan Steve Jobs dan internet, namun Alibaba tetaplah perusahaan yang relatif baru dengan sejumlah risiko, apalagi perusahaan harus berhadapan dengan perusahaan terbesar di dunia, seperti Google dan Amazon,” kata Analis Chicago Securities Andrew Stoltmann.

Ada banyak sentimen positif yang mendasari investor dalam memburu saham Alibaba. Perkembangan perusahaan yang cepat, profitablitas yang tinggi serta ambisi perusahaan.

Mayoritas netizen  China mengunjungi laman Alibaba, dan hampir semua barang dibeli melalui situs tersebut. Bagi investor Amerika Serikat sendiri, Alibaba bisa menjadi pintu masuk merebut pasar kelas menengah China yang menguat. “Tidak dipungkiri, kesuksesan Alibaba akan menginspirasi perusahaan China lainnya untuk melakukan IPO, bahkan juga mendorong prospek saham perusahaan sejenis yang telah lebih dulu melantai seperti Cheetah Mobile, Qihoo 360 dan Sina,” ujarnya.

Meski demikian, para investor mengkhawatirkan likuiditas saham Alibaba yang tinggi. Investor tidak mau kesalahan yang dilakukan Facebook saat terlalu tinggi menjual saham perdananya, terjadi pada Alibaba.

Apalagi dibawah sistem kelas ganda, pendiri Alibaba, Jack Ma dan rekannya mengatur dewan direksi. Berbeda dengan kebijakan satu suara satu saham, sistem ganda membuat pemegang saham di luar dewan direksi tidak memiliki banyak pengaruh dan sangat mudah diatur, tidak peduli berapa banyak saham yang mereka miliki.

Struktur yang tidak biasa tersebut, lanjut Andrew, berpotensi mengganggu kebebasan dewan direksi. Pasar modal Hong Kong menyadarinya dengan menolak Alibaba, namun pasar modal Amerika Serikat justru menerimanya. “Jika terjadi apa-apa dan perusahaan memutuskan untuk membawa semua dana, mereka tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.

Selain tidak memiliki pengaruh, pemegang saham juga tidak benar-benar membeli saham Alibaba. Mereka membeli entitas suku bunga variabel perusahaan kerang di pulau Cayman, sebuah perusahaan China yang biasanya membatasi kepemilikan saham asing. “Pembuat kebijakan China saat ini memang tidak membatasi kepemilikan saham asing, namun satu saat mereka bisa saja melakukannya dengan mencabut ijin usaha anak perusahaan, Alibaba, atau dengan membatasi operasi perusahaan,” ujarnya.

Ma, miliuner yang menemukan Alibaba 15 tahun silam, merupakan sosok yang sejauh ini bisa dipercaya. Namun, pembelanjaan perusahaan belakangan perlu dipertanyakan. Pada awal tahun, dia menginvestasikan USD 192 juta di salah satu klub sepakbola China , yang dilakukan setelah minum-minuman di salah satu klub dengan teman miliunernya. Hasil investasi tersebut kini belum tampak.

Salah satu unit usaha Alibaba yang berkembang paling pesat adalah layanan pembayaran, yang Ma pisahkan dari perusahaan sejak 2011, menjadi perusahaan Alipay dengan menggalang investor Yahoo dan SoftBank.

Hal tersebut dilakukan tanpa persetujuan dewan direksi. 

Ketiga perusahaan, meskipun mencapai kesepakatan, namun kepercayaan mereka belakangan menurun. Morningstar Securities menilai, perusahaan memiliki ketidakpastian yang tinggi.

Outlet milik Alibaba, Taobao dan Tmall, sempat memblokir barang dagangan dan suplier bermasalah secara agresif, yang membuat pejabat Amerika Serikat menamainya kejahatan pasar karena penipuan properti intelektual.

“Alibaba akan semakin tertekan ketika memasuki pasar Eropa dan Amerika Serikat dengan kompetisi yang lebih besar dari perusahaan besar dunia. Pendapatan dan bottom line perusahaan dapat terganggu seiring pengeluaran lebih besar untuk teknologi, SDM, dan lainnya,” katanya.

Saat investor mempelajari berbagai risiko tersebut, Ma hanya meyakinkan dengan satu kata, percaya.

“Percayalah pada kami dan pasar, SDM muda dan teknologi baru. Dunia semakin transparan. Semua hal yang anda khawatirkan pada perusahaan sudah saya lalui 15 tahun yang lalu. Ketika anda percaya, semuanya akan mudah,” ujarnya.(bst/ram)