Investor Singapura Minati Dua Sektor Ini

Investor Singapura Minati Dua Sektor Ini
foto:dancumberworth.co.uk

Investor Singapura berminat investasi di Indonesia senilai USD 165 juta atau sekitar Rp 2,27 triliun (asumsi kurs Rp 13.771 per dolar Amerika Serikat). Minat investasi itu berasal dari dua sektor, yakni telekomunikasi sebesar USD 150 juta dan farmasi sebesar USD 15 juta.

Investor Singapura di bidang farmasi tersebut akan diarahkan untuk memanfaatkan layanan izin investasi 3 jam di BKPM. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibrani menyampaikan, dari hasil pertemuan one-on-one meeting yang dilakukan di Singapura tercatat minat investasi dari sektor farmasi sebesar USD 15 juta.

“Investasi dari sektor farmasi ini akan diarahkan untuk memanfaatkan layanan izin investasi 3 jam di BKPM,” ujar dia dalam keterangan resmi, Minggu (6/12/2015).

Ia menuturkan, perusahaan farmasi memiliki database di Indonesia dengan tenaga kerja mencapai 12.000 di seluruh dunia. Perusahaan juga didukung oleh 600 peneliti dengan penetrasi produk yang telah dipasarkan di 18 negara Eropa, dan lebih dari 30 negara di dunia.

“Produknya melindungi sel yang tidak kena kanker tetap hidup dan menjadikan sel kanker sebagai target untuk dimusnahkan,” ujar dia.

Ia menambahkan, investor potensial itu merupakan perusahaan pertama di dunia yang memulai nano technology di bidang farmasi. “Indonesia dipilih karena merupakan pasar yang besar ditambah ASEAN,” kata dia.

Indonesia sendiri, Franky menuturkan juga membutuhkan investasi di bidang farmasi untuk mendorong transfer teknologi. Namun demikian, perusahaan juga menyampaikan beberapa catatan terkait rencana investasi di Indonesia.

“Fokus terbesar dari perusahaan adalah izin dari kementerian teknis yang dinilai cukup memakan waktu. Oleh karena itu, BKPM mendorong pemanfaatan layan 3 jam karena di atas US$ 8 juta,” ungkap Franky.

Singapura merupakan salah satu sumber foreign direct investment (FDI) terbesar di Indonesia. Dari catatan BKPM, sejak 2010 hingga kuartal III 2015, FDI dari Singapura mencapai USD 30 miliar yang terdiri dari 6.868 proyek.

Jumlah itu merupakan kontribusi dari beberapa sektor di antaranya sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi, pertanian dan perkebunan, pertambangan, industri makanan, industri mineral, dan bukan metal, serta ketenagalistrikan, gas dan air.

Dari data yang dirilis oleh BKPM periode Januari-September 2015, Singapura merupakan negara dengan peringkat teratas dengan nilai investasi mencapai USD 3,5 miliar, kemudian disusul dengan Malaysia USD 2,9 miliar, Jepang USD 2,5 miliar, setelah itu Korea Selatan USD 1 miliar dan Belanda USD 0,9 miliar.

Kegiatan kunjungan kepala BKPM Franky Sibarani dilakukan untuk menandatangani Nota Kesepahaman dengan UOB Bank.  Selain itu, kepala BKPM melakukan pertemuan dengan lima perusahaan Singapura yang tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Kunjungan itu didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik untuk Indonesia di Singapura. Hadir Duta Besar RI untuk Singapura Andri Hadi dalam penandatanganan Nota Kesepahaman dengan UOB. (wh)