Investor Asing Tempati Tiga Besar Pemegang Surat Utang Negara

Investor Asing Tempati Tiga Besar  Pemegang Surat Utang Negara
Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko, Robert Pakpahan, foto: cnnindonesia.com

Direktorat Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan memastikan porsi kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 39,48 persen masih dalam batas aman meski lebih tinggi dari Malaysia. Pemerintah tidak khawatir terhadap pembalikan modal secara tiba-tiba atau sudden reversal.

Direktur Jenderal Pengelolaan, Pembiayaan dan Risiko, Robert Pakpahan mengungkapkan, jumlah kepemilikan asing pada SBN yang diperdagangkan Indonesia mencapai 39,48 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding negara lain, seperti Malaysia sebesar 30 persen.

Dengan banyaknya pihak asing masuk dalam portofolio SBN, diakuinya akan memberi keuntungan bagi Indonesia. Di antaranya menambah likuiditas di pasar, menambah imbal hasil dan stok valuta asing (valas).

“Paling penting menjaga fundamental kita, sepanjang ekonomi kita masih kredibel, tumbuh positif dan cukup tinggi, harusnya tidak perlu khawatir ada sudden reversal,” ucap dia usai Konferensi Pers di Jakarta, Kamis (9/7/2015).

Robert merinci, total kepemilikan asing pada SBN yang diperdagangkan Indonesia sebesar 39,48 persen atau Rp 535 triliun. Adapun tiga besar pemegang SBN dari luar negeri, yakni peringkat pertama, Reksadana  sebesar Rp 182 triliun, peringkat kedua ditempati Lembaga Keuangan Rp 147 triliun, dan Bank Sentral Asing Rp 102,3 triliun di peringkat ketiga.

Bank sentral asing, kata dia, menggenggam surat utang Indonesia sebagai cadangan devisa sehingga tidak akan terpengaruh dengan gejolak pasar. Robert mengakui, SBN sekitar Rp 431 triliun yang diperdagangkan berada di tangan investor berkualitas.

Bukti kepemilikan asing pada SBN sebagai investor jangka panjang, dia menjelaskan, karena porsi asing yang membeli surat utang dengan tenor atau jatuh tempo di atas 5 tahun mencapai 81,31 persen. Sedangkan surat utang tenor antara 1 tahun-5 tahun porsinya 14,8 persen, dan 3,8 persen tenor 0 sampai 1 tahun.

“Investor berkualitas ini yang tidak mudah goyah, bukan spekulan. Mereka investor jangka panjang, punya modal besar dan tidak cepat keluar masuk. Jadi kita tidak khawatir sudden reversal,” terang Robert.(lp6)