Investasi Jatim Butuh Rp 500 Triliun

 

Investasi Jatim Butuh Rp 500 Triliun

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang cenderung menunjukkan sentimen positif melonjak 8 persen per tahun. Hal ini membuat Gubernur Jawa Timur, Soekarwo memproyeksikan pada 2019 Jatim akan butuh nilai investasi hingga Rp 500 triliun.

“Pada tahun ini kami menargetkan nilai investasi yang masuk Jatim mencapai Rp 234 triliun. Tiap tahunnya akan tumbuh rata-rata 8 persen. Pada 2018 kami proyeksikan investasi yang masuk Jatim mencapai Rp 455 triliun dan pada 2019 mencapai Rp 500 triliun,” beber Soekarwo saat memberikan pengarahan pada acara Investor Summit and Capital Market Expo 2014 di  Grand City Surabaya, Rabu (20/8/2014).

Di tempat yang sama, Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Pemprov Jatim, Hadi Prasetyo menambahkan bahwa untuk mempercepat proyeksi pertumbuhan investasi yang masuk Jatim tersebut pihaknya tengah mengusulkan dana senilai Rp 500 miliar untuk pembangunan jalur lintas selatan.

“Jalur selatan ini nantinya akan lebih hebat dibanding jalur Surabaya- Jakarta. Pembuatan ride way saja  mencapai 25 meter. Ini cukup luas dibanding jalur Surabaya-Jakarta yang hanya 20 meter saja,” terangnya.

Namun menurutnya, saat ini pihaknya masih menyelesaikan pembebasan tanah dan pematangan tanah. “Pacitan dan Trenggalek sudah. Saat melalui kawasan kehutanan, kami juga tidak beli, hanya saja kita sudah buat kesepakatan untuk dibangun jalan,” bebernya.

Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengaku emiten yang masuk bursa saham tertinggi di Asia. Satu di antaranya Jatim. Karena itu dengan diselenggarakannya Investor Summit 2014 ini akan mendorong investor masuk Indonesia lebih banyak khususnya Jatim.

“Saya lihat emiten terus tumbuh. Kami menyelenggarakn Investor Summit 2014 di Surabaya ini untuk memberikan penghargaan setingginya pada investor dan emiten di jatim. Apalagi pada 2019 jatim butuh biaya Rp 500 triliun,” ujarnya.

Karena itu, menurut Ito, Jatim harus menggali kebutuhan investai di jatim. Mulai dari perbankan dan pasar modal. “Kebutuhan Rp 500 triliun itu sangat banyak. Jadi nggak mungkin kalau semua biaya didapatkan dari perbankan. Karena itu harus kita buka pasar modal sebanyak-banyaknya,” jabarnya. (wh)