Investasi di Surabaya Tak Goyah Meski UMK Naik

Investasi Surabaya Tak Goyah Meski UMK Naik

Kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) pada tahun 2014 mendatang, dipastikan tak akan berpengaruh besar terhadap iklim investasi di Surabaya.

“Investasi di Surabaya tidak akan terganggu, meskipun ada ancaman pengusaha yang ingin memindahkan lokasi usaha di luar Ring 1,” ujar Kresnayana Yahya kepada enciety.co, Jumat (13/12/2013).

Kata dia, UMK bukan untuk memanjakan buruh, tetapi sebagai penyesuaian iklim ASEAN Economic Community (AEC) 2015. “Kenaikan UMK itu tidak bisa dihindari. UMK rendah justru akan memancing kecurigaan investor, jangan-jangan kualitas SDM-nya rendah sehingga murah,” tandasnya.

Angka UMK di Surabaya, lanjut Kresnayana, tergolong masih dalam batas wajar. Peluang Surabaya menjadi jujugan investor amat besar.

Kresnayana lalu menyebut jika Pelabuhan Teluk Lamong dan perluasan Bandara Juanda selesai tahun 2014, diperkirakan 3.000 orang asing akan masuk. Maka, Pemkot Surabayua dituntut untuk lebih terbuka memberikan informasi yang detil mengenai rencana tata kota dan tata ruangnya. Informasi planning yang rinci akan membantu para investor untuk menghitung kemungkinan melakukan investasi di Surabaya.

“Kita perlu waspada, era AEC nanti, jumlah investasi yang masuk ke ASEAN akan melebihi jumlah investasi ke China. Itu akan menimbulkan gemuruh di ASEAN,” papar Chairperson Enciety Business Consult itu.

Dari 10 negara ASEAN, lanjut pakar statistik dan dosen ITS tersebut, Indonesia dinilai paling cantik lantaran paling beragam.

Dia yakin, Indonesia kelak mampu mengalahkan China. Karena tingkat konsumsi Negeri Tirai Bambu hanya 30 persen, ekspor menjadi motor utama perekonomiannya. Itu berarti bila jumlah ekspornya terganggu, ekonominya bisa goyah.

“Sedangkan konsumsi Indonesia saja sudah 70 persen. Bila kita mandiri, kita bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Periode transisi perekonomian Indonesia masih panjang,” terangnya.

Pesona Indonesia saat ini, terang dia, makin menarik minat investor regional. Salah satunya ialah Thailand. “Belum lagi Singapura. It’s already too small. Maka dari itu, generasi mudanya sekarang dianjurkan untuk berinvestasi ke luar Singapura dengan support pemerintah,” pungkas Kresna.(wh)