Intiland Bukukan Pendapatan Usaha Rp 2,28 T

Intiland Bukukan Pendapatan Usaha Rp 2,28 T

Intiland Bukukan Pendapatan Usaha Rp 2,28 T

Pengembang properti, PT Intiland Development Tbk, membukukan pendapatan usaha Rp2,28 triliun, atau naik 3,4 persen dari pencapaian sebesar Rp2,2 triliun pada tahun 2015.

Direktur pengelolaan modal dan investasi Intiland, Archied Noto Pradono, menjelaskan, meningkatnya nilai pendapatan disebabkan oleh pengakuan penjualan dari penyelesaian unit-unit rumah di kawasan perumahan Serenia Hills, Jakarta Selatan progres pembangunan proyek apartemen Regatta di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara, serta meningkatnya kontribusi segmen pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang bersumber dari pengelolaan perkantoran di South Quarter, Jakarta Selatan dan penyewaan bangunan pabrik standar (standard factory building) serta pengelolaan kawasan di Ngoro Industrial Park, Mojokerto, Jawa Timur. “Kami akan terus meningkatkan kontribusi dari segmen recurring income. Seiring dengan penyelesaian proyek pengembangan mixed-use seperti Praxis dan Spazio Tower di Surabaya akan memberikan kontribusi positif pada kinerja perusahaan,” kata Archied dalam keterangan tertulis pada media, Jumat (31/3).

Pada tahun 2016, kontribusi pendapatan berkelanjutan tercatat mencapai Rp347,6 miliar atau 15,3 persen dari keseluruhan. Jumlah tersebut meningkat sebesar 53,4 persen dibanding perolehan tahun 2015 yang mencapai Rp226,6 miliar.

Segmen pendapatan dari pengembangan (development income) tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp1,93 triliun, atau 84,7 persen dari keseluruhan. Pencapaian ini mengalami penurunan tipis sebesar 2,3 persen dibandingkan perolehan tahun 2015 sebesar Rp1,97 triliun.

Archied mengungkapkan bahwa berdasarkan segmentasi produknya, segmen pengembangan perumahan menjadi kontributor terbesar mencapai Rp1,1 triliun, atau setara 48,9 persen dari keseluruhan. Kontributor berikutnya berasal dari segmen pengembangan mixed-use dan high rise yang tercatat mencapai Rp733,5 miliar atau 32,2 persen.

Di tengah tantangan yang terjadi di industri properti setahun terakhir, segmen pengembangan kawasan industri masih berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp81,3 miliar, atau 3,6 persen dari keseluruhan. Sementara segmen properti investasi yang berasal dari unit-unit usaha yang memberikan kontribusi pendapatan berkelanjutan tercatat membukukan pendapatan Rp347,6 miliar atau 15,3 persen.

Menurut Archied, industri properti nasional mengalami tekanan cukup berat sepanjang tahun 2016. Kondisi ini secara langsung menekan kinerja penjualan sehingga berpengaruh pada pencapaian profitabilitas Perseroan. Perseroan mencatatkan perolehan laba kotor sebesar Rp1,04 triliun, atau relatif stabil dari pencapaian tahun 2015. Laba usaha tercatat mencapai Rp404,3 miliar, atau lebih rendah 11,6 persen dibandingkan tahun 2015 sebesar Rp457,1 miliar.

“Kami membukukan laba bersih Rp 298,9 miliar, atau turun 25,6 persen dibandingkan tahun 2015. Penurunan laba juga dipengaruhi oleh adanya peningkatan beban operasional dan beban bunga sepanjang tahun 2016,” jelas Archied.

Perseroan mencermati sepanjang tahun 2016 telah terjadinya tren penurunan di pasar properti nasional. Para konsumen dan investor properti cenderung lebih mengambil sikap menunggu dan menunda pembelian maupun melakukan investasi di sektor properti.

Gejala ini telah mempengaruhi kinerja penjualan perseroan dengan perolehan marketing sales sebesar Rp 1,6 triliun. Nilai pencapaian tersebut lebih rendah 12,9 persen dibandingkan perolehan tahun 2015 yang mencapai Rp 1,9 triliun. Perseroan terpaksa menunda peluncuran dua proyek baru skala besar di tahun 2016 akibat kondisi pasar properti yang kurang kondusif.

Manajemen Perseroan berkeyakinan prospek kondisi pasar properti akan berangsur-angsur membaik di tahun 2017. Perseroan merencanakan untuk meluncurkan sejumlah proyek baru di segmen pengembangan mixed-use dan high rise di Jakarta dan Surabaya. (pr/bst)