Internet dan Kesehatan Kunci Penyelamatan Bonus Demografi

Internet dan Kesehatan Kunci Penyelamatan Bonus Demografi

Kisworo Agung, mentor digital marketing Pahlawan Ekonomi, melatih pelaku UMKM melek internet.foto:arya wiraraja/enciety.co

Booming internet di Indonesia sangat berpengaruh terhadap bonus demografi yang puncaknya diperkirakan terjadi 2030-2040. Momentum tersebut harus ditangkap sebagai peluang lantaran tidak terjadi terus menerus.

“Tidak semua negara memiliki kesempatan itu. Brazil, Afrika Selatan pernah mengalami tapi mereka tidak berhasil memanfaatkannya,” ujar Research Manager enciety Business Consult (eBC) Fajar Haribowo.

Fajar lalu menuturkan, pandemi covid-19 bisa menjadi aktor percepatan tumbuhnya digitalisasi di Tanah Air. Di mana, banyak orang terhubung dengan internet karena harus mengurangi mobilitas. Aktivitas mereka banyak dilakukan melalui online.

Saat ini, terang Fajar, ada 184,94 juta jiwa pengguna mobile broadband. Lebih dari 90% telah menggunakan aplikasi mobile, khususnya chat apps dan social networking apps. Hal ini mengharuskan setiap aplikasi harus mobile friendly. Sedang mobile apps yang masih memiliki peluang sangat besar untuk dikembangkan salah satunya health and fitness apps.

Sementara, ketersediaan broadband hanya sebesar 9,66 juta (3,60%) dari total populasi penduduk. “Ini artinya, jaringan internet masih belum merata ke daerah-daerah di Indonesia,” jelas Fajar.

Fajar juga mencatat, perubahan perilaku setelah pandemi yang dianggap mampu meningkatkan peluang tumbuhnya market information and communication technology (ICT). Bagi consumer, precautionary saving naik, lebih banyak aktivitas online di rumah seperti bekerja, belajar, belanja, bermain dan sebagainya.

“Di sektor consumer ini, premi asuransi, pemanfaatan telemedik (telemedicine), dan transaksi non tunai mengalami kenaikan signifikan,” papar dia.

Untuk korporasi, sebut Fajar, work from home (WFH) makin dominan dilakukan, penggunaan vicon dan seminar online naik, digitalisasi, mengkaji ulang target keuangan perusahaan karena kemungkinan besar terjadi penurunan revenue, dan lainnya. Sementara devidend payout mengalami penurunan, evaluasi persediaan/bahan baku, dan reorientasi supply chain.

Sedang bagi pemerintahan, berdampak pada pengeluaran dan stimulus, pergeseran belanja infrastruktur ke belanja kesehatan, Bank Indonesia memastikan seluruh transaksi digital dan non tunai tetap beroperasi maksimal, dan percepatan layanan proses ekspor impor melalui National Logistic Ecosystem (NLE).

Rizal Zulkarnaen, peneliti eBC, mengakui jika pemanfaatan internet menjadi salah satu trigger (pemicu) untuk menyambut bonus demografi di Indonesia.

“Hasil survei enciety Business Consult 2020, sebagian besar kebutuhan masyarakat menggunakan internet untuk belajar dan bekerja. Baik di Jawa maupu maupun luar Jawa,” tutur dia.

Untuk akses internet di rumah dalam sehari, terang Rizal, masyarakat yang menghabiskan waktu 8 jam kurang sebesar 43%, sedangkan yang lebih dari 8 jam 57%.

Perangkat yang digunakan untuk mengakses internet di rumah, melalui smartphone 99,2%, laptop/notebook 35,1%, desktop PC 23,6%, Smart TV 16%, dan tablet PC 12,7%.

Di sisi lain, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7% (202,6 juta jiwa). “Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 15% atau 27 juta jiwa dibandingkan Januari 2020,” tandas Rizal.

Internet dan Kesehatan Kunci Penyelamatan Bonus Demografi
ilustrasi foto:medcom.id

Ancaman Pengangguran

Fajar Haribowo menambahkan, akibat pandemi covid-19 yang kini telah memasuki tahun kedua, juga membawa ancaman terhadap bonus demografi. Pasalnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan jika generasi Z (lahir tahun 1997-2012) yang mendominasi  struktur kependudukan di Indonesia, yakni 74,93 juta jiwa (27,94%), ternyata mendominasi angka pengangguran. Tercatat, angka pengangguran dalam setahun meningkat 38,63% dari 7,045 juta jiwa (Agustus 2019) menjadi 9,7767 juta jiwa (Agustus 2020).

“Dari jumlah itu, pengangguran dari generasi Z dan milenial bertambah 1,5 juta jiwa (25,5%). Ini alarm yang pantas kita cermati bersama,” beber dia.

Jika dirinci, jelas Fajar, pengangguran generasi Z bertambah 403.774 orang (10,15%). Sementara pengangguran generasi milenial bertambah 1.141.263 orang (55 %).

“Secara nominal, jumlah pengangguran terbesar dikuasai kelompok usia 20-24 tahun, yakni 2.756.019 orang. Disusul usia 15-19 tahun, yaitu 1.624.465 orang,” jlentreh dia.

Menurut Fajar, bangsa ini harus melahirkan banyak generasi yang produktif. Karena jika mereka berpenghasilan akan mampu membayar, makan di restoran, sehingga me-leverage ekonomi.  Multiplier-nya juga sangat besar.

Rizal Zulkarnaen menjelaskan, bonus demografi sangat ditentukan besaran usia produktif dan erat kaitannya dengan rasio dependensi atau angka ketergantungan. Di mana, usia produktif menganggung beban usia non produktif.

Untuk mendapatkan angka ketergantungan tersebut dengan menempatkan jumlah penduduk usia non produktif dibagi usia produktif dikalikan seratus. Untuk hasil yang baik, angka ketergantungan harus di bawah 50.

“Tahun 2020, rasio dependensi kita sebesar 41. Lebih bagi dari tahun 2010 yang rasio dependensinya di lebih dari 50. Ini fase penting memasuki masa-masa memasuki bonus demografi,” tutur Rizal

Angka angkatan kerja masih didominasi penduduk usia produktif yang lulusan setara SMP yang angkanya 63 persen. Lulusan SLTA 20 persen dan  perguruan tinggi 13 persen.

“Ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan. Pemerintah juga harus bisa mendorong mereka untuk tidak mencari tapi membuka lapangan pekerjaan,” saran Rizal.

Dari fakta tersebut, Rizal meyakini jika pemanfaatan internet bisa menjadi instrumen penting untuk mendukung sekaligus menekan angka pengangguran.

Soal itu juga mendapat perhatian Fajar. Kata dia, internet jadi semacam sarana pemerataan akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Dia menyebut konsultasi kesehatan online di masa pandemi mengalami peningkatan siginifikan. Begitu juga dengan konsultasi pendidikan

“Saya membayangkan jika kebutuhan pemerataan tenaga kesehatan di daerah tertinggal, terluar, terdepan, dan terpinggirkan, jangan-jangan bisa tersolusikan dengan pemanfaatan internet ini,” papar Fajar.

Dia lalu menjelaskan, masyarakat yang tinggal di daerah bisa bertanya langsung dengan dokter di Jawa tentang penyakit tanpa harus menunggu kunjungan dokter.

“Hanya sekarang problemnya pada akses. Makanya, sangat penting mendorong internet service provider melakukan pemerataan akses di daerah,” kata dia.

Internet dan Kesehatan Kunci Penyelamatan Bonus Demografi
ilustrasi foto:antara

Pemerataan Infrastruktur

Bonus demografi memang menjadi kesempatan emas. Namun, di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi tantangan. Guna mempersiapkan penduduk usia produktif berkualitas tinggi, pemerataan jaringan internet di Indonesia bisa dijadikan stimulus.

Fajar Haribowo menuturkan, isu terkait layanan internet di Indonesia sebenarnya bukan pada kecepatan akses seperti yang saat ini diangkat oleh beberapa penyedia layanan akses broadband, melainkan pemerataan akses dan kesetaraan layanan untuk masyarakat.

“Ini memang bukan hanya tugas pemerintah. Kami mendorong para provider mau dan mampu melakukannya. Saya kira dengan semangat gotong royong, pemerataan infrastruktur internet di daerah pasti bisa diwujudkan,” ujar Fajar.

Fajar yakin, kalau para provider tidak berinvestasi lebih awal di daerah, mereka akan ketinggalan. Dia mengaku sangat mengapresiasi Telkom dengan Indihome-nya. Yang memiliki jangkauan luas dan merata. Bisa diakses di semua daerah di Indonesia.

“Kalau dibayangkan hari ini, apa sih untungnya ngurusi market yang seperti itu. Tapi jangan mengecilkan hal itu. Karena potensi di daerah bisa terpacu ketika orang-orang di usia produktif itu kemudian mampu melihat potensinya dan mampu mengkomunikasikan keluar melalui internet,” jelas dia.

Menurut Fajar, ketika potensi di daerah bertimbuh, usaha berkembang, brand awarness pertama ya pasti provider yang lebih awal. Dia menuturkan, ada dua hal yang menjadi catatan. Yakni, tanggung jawab sosial ikut membangun negeri ini dengan mempersiapkan generasi berkualitas, tapi ke depannya mereka pasti mendapat manfaat.

“Jangan hanya Indihome yang gencar membangun infrastruktur di daerah, sementara provider-provider lain hanya bergerak di kota besar. Apalagi cuma di Jawa saja,” kata dia.

Rizal Zulkarnen menuturkan, di Indonesia ada lima provider yang terbesar untuk fixed broadbrand. Tapi internet juga ada dari operator cellular broadband.

Jika ditanya, apakah penduduk Indonesia sudah terlayani internet? Dia menyawan iya. Hanya yang terbesar dari cellular broadband. Hasil survei eBC, smartphone menjadi perangkat yang paling banyak digunakan mengakses internet di rumah, yakni 99,2%. Disusul laptop/notebook (35%), desktop PC (23%), Smart TV (16,4%), dan tablet PC (12,7%).

“Dari survei, fixed broadbrand pasarnya masih sekitar 14 persen,” ungkap Rizal yang melihat pemerataan infrastruktur internet merupakan agenda mendesak.

Lantas, apakah masaing-masing provider bisa berkolaborasi? Menurut Rizal, hal ini terkait dengan kompetisi yang tidak bisa dibatasi. Kalau pemerintah dan Telkom ada kewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun bagi swasta pasti berpikir profit. Hanya, kata dia, kalau belum bisa melakukan pemerataan akses di daerah-daerah terpencil, provider swasta minimal bisa melakukan pemerataan di level kelompok masyarakat.

“Artinya, jangan hanya menjual produk untuk masyarakat kelas menengah atas, tapi harus memikirkan masyarakat kelas bawah. Mereka sanggup mengakses internet melalui cellular broadband, tapi bagaimana dengan kualitasnya? Kan kualitas fixed bradbrand lebih baik dari cellular broadband,” tutup dia. (wh)