Intelijen: MH370 Jadi Pelor Udara Mirip Insiden WTC AS

Intelijen: MH370 Jadi Pelor Udara Mirip Insiden WTC AS

Intelijen Amerika Serikat ikut membantu investigasi kasus dugaan pembajakan pesawat Malaysia Airlines MH370. Selain pembajakan, mereka juga kini membuka opsi penggunaan pesawat untuk menyerang sebuah negara.

Hal ini disampaikan anggota kongres AS yang menangani bidang keamanan, Michael McCaul. Dia mendapat informasi dari pihak keamanan dalam negeri, intelijen hingga pusat kontraterorisme AS.

Dua opsi yang muncul terkait keberadaan pesawat adalah dibawa menuju utara ke arah Kazakhstan. Namun ini pasti terdeteksi radar udara sejumlah negara. Atau membawanya ke lautan Hindia yang tak bisa terjangkau radar.

“Bisa juga ada kemungkinan mendarat di sebuah pulau atau negara seperti Indonesia, lalu nanti digunakan sebagai misil udara seperti pembajak 9/11,” ujarnya kepada Fox News seperti dikutip AFP. TNI AU sudah memastikan tak ada pesawat yang terdeteksi radar masuk wilayah udara Indonesia.

Yang jelas, fokus utama penyelidikan mereka kini pada pilot kapten Zaharie Ahmad Shah dan kopilot Fariq Abdul Hamid.

“Saya pikir dari semua informasi yang sudah saya dapat dari beberapa petinggi keamanan dalam negeri, pusat kontraterorisme dan komunitas intelijen, ini sesuatu yang berhubungan pilot,” kata McCaul seperti diberitakan AFP dan Foxnews.

“Saya menduga semua petunjuk ini mengarah ke kokpit, dengan pilot dan kopilotnya,” tambahnya.

Kecurigaan soal pembajakan menguat setelah transponder atau alat pengirim sinyal informasi pada pengatur lalu lintas udara dimatikan sebelum pesawat berubah. Dua penumpang Iran yang memakai paspor palsu dan one way ticket juga kembali jadi perhatian.

Menurutnya, kasus pesawat MH370 bukan kecelakaan. Ini adalah disengaja untuk menurunkan pesawat. Lalu ada pula kemungkinan pesawat Malaysia itu dijadikan pelor atau misil udara sebagaimana peristiwa terkenal sebagai “black September”.

Pada pagi 11 September 2001, 19 pembajak mengambil alih empat pesawat komersial yang sedang terbang menuju San Francisco dan Los Angeles setelah lepas landas dari Boston, Newark, dan Washington, D.C. Pesawat dengan penerbangan jarak jauh sengaja dipilih untuk dibajak karena mengangkut bahan bakar yang banyak. Pukul 8.46 pagi, lima pembajak menabrakkan American Airlines Penerbangan 11 ke Menara Utara World Trade Center (1 WTC) dan pada pukul 9.03 pagi, lima pembajak lainnya menabrakkan United Airlines Penerbangan 175 ke Menara Selatan (2 WTC).

Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City, dimana kedua menara runtuh dalam kurun waktu dua jam.(bh)