Inilah Penyebab Satwa KBS Cacat

Inilah Penyebab Satwa KBS Cacat

Dari 3.459 satwa, 84 ekor satwa koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS) mengalami cacat dan sakit. Bahkan, 40 hewan dari yang cacat tersebut perlu mendapatkan pengawasan serius. Contohnya saja Gonzales. Gajah Sumatera berusia 3 tahun itu kerap usil memasukkan kakinya ke dalam saluran pipa dalam kandang. Akibatnya, kakinya terluka.

Menurut Direktur Utama PD Taman Satwa KBS Ratna Achjuningrum, penyebab cacatnya satwa KBS tersebut beragam. “Yang cacat itu sebagian besar karena perilaku satwanya sendiri. Bisa karena bersikap hiperaktif atau perkelahian antar hewan dalam kandang,” ujarnya, Selasa (28/1/2014.

Kata dia, lemahnya pengawasan terhadap satwa sebelum ditangani PD Taman Satwa KBS, membuat faktor-faktor tersebut mungkin saja terjadi. Sebab faktanya, keadaan satwa-satwa itu sudah cacat sejak proses pengambilalihan pengelolaan dari Tim Pengelola Sementara (TPS) pimpinan Tony Sumampau kepada pemerintah kota Surabaya, 15 Juli 2013 yang lampau.

Sedangkan faktor pendorong kematian satwa, lanjut Ratna, bisa karena seleksi alam. Kematian satwa adalah sesuatu yang wajar dalam konteks konservasi. “Artinya, satwa yang memang sudah tua, pelan tapi pasti akan mengalami mati. Sehingga seharusnya masyarakat memaklumi apabila satwa KBS mati karena usia. Jadi bukan karena kami tidak bisa merawat dengan baik,” tegasnya.

Sebaliknya, terang dia, sebagian satwa KBS justru melampaui masa hidup ideal hewan pada umumnya. Sebut saja celeng gonteng yang kini berusia 15 tahun dan kondisinya masih sehat. Padahal, paling mentok satwa itu 15 tahun. Lalu, ada beruang madu yang berusia 24 tahun, yang memiliki angka harapan hidup hingga 25 tahun. Sementara kuda nil tertua yang hidup di KBS, kini berusia 30 tahun. Rata-rata, kuda nil hidup sampai 35 tahun.(wh)