Inilah Cara Risma Jaga Kampung dan Bangunan Cagar Budaya

Inilah Cara Risma Jaga Kampung dan Bangunan Cagar Budaya

 Kota Surabaya dengan gedung-gedung pencakar langitnya tetap menaruh perhatiannya pada bangunan cagar budaya. Pun dengan kampung-kampung kota Pahlawan.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menegaskannya dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah Bidang Kebudayaan tahun 2014 di Hotel JW Marriot, Rabu (2/4/2014).

“Melestarikan budaya tidak bisa dilepaskan dari bangunan cagar budaya. Apalagi Surabaya ini punya banyak bangunan peninggalan masa lampau dengan nilai sejarah tinggi,” ujarnya.

Untuk menyelamatkannya, Pemkot Surabaya memberikan kebijakan menarik agar masyarakat tergerak menjaga bangunan cagar budaya yang tak ternilai harganya itu.

“Pemkot akan memberi insentif berupa pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan hanya 50 persen bagi mereka yang mau memelihara gedung-gedung cagar budaya,” tuturnya.

Risma lantas mengungkapkan, dulu banyak sekali bangunan di Surabaya yang tak terawat. Penetapan PBB hanya 50 persen itu bahkan sudah menjadi SK Wali Kota.

Dampaknya, kini masyarakat mau merawat cagar budaya. “Gedung-gedung itu dulunya kumuh dan kotor, sekarang sudah mendingan. Kita mengajak tidak hanya mempertahankan, tapi juga merawat,” terangnya. Si pemilik boleh merenovasi, namun tetap ada syaratnya.

“Tidak boleh mengubah bentuk aslinya,” tegas mantan. Kepala Bappeko ini. Risma menyebut, potongan pembayaran PBB itu bisa ‘menghemat’ Rp 50-100 juta bagi gedung-gedung di kota tua, kawasan Surabaya Utara.

Bukan hanya gedung cagar budaya, kampung-kampung tak luput dari upaya penyelamatan. Risma mengungkapkan, pihaknya berupaya mempertahankan keberadaan kampung-kampung tersebut. “Kami sengaja preserve by design kampung-kampung. Karena Surabaya ini ibarat sebuah kampung besar. Kami ingin orang-orang Surabaya merasa di sanalah mereka tinggal dengan nyaman,” paparnya.

Beberapa kampung, lanjutnya, ditetapkan sebagai kampung cagar budaya. Risma menyontohkan di antaranya kampung-kampung di kawasan Surabaya Utara yang bernuansa Eropa, Pecinan, dan Arab, daerah jalan Panggung.

“Jadi, bukan hanya gedungnya, tapi juga kawasannya. Ini upaya kami untuk lestarikan kawasan budaya,” pungkasnya.(wh)