Ini yang Harus Dilakukan agar Produk UKM Naik Kelas

Ini yang Harus Dilakukan agar Produk UKM Naik Kelas
Para pelaku UKM di Surabaya mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi di Kaza Citu, Jalan Kapas Krampung, Surabaya, Minggu (26/7/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Produk sederhana yang melalui berbagai macam proses secara tidak langsung akan naik kelas jika ditinjau dari sudut pandang ekonomi. Karena itu, perlu ada upaya untuk memperbaiki kemasan dan kualitas pengolahan produk.

Hal itu disampaikan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya saat menjadi mentor Pelatihan Branding Development Pahlawan Ekonomi, di Kaza City, Jalan Kapas Krampung, Surabaya, Minggu (26/7/2015).

Dia mencontohkan produk komoditas kopi yang kini dapat berkembang dan naik kelas hingga berlipat-lipat. “Coba bandingkan, harga kopi jika dijual dalam bentuk biji dengan biji kopi yang telah diolah menjadi bubuk kopi, hasilnya akan sangat berbeda. Lalu bandingkan, jika kita menjual bubuk kopi dengan kopi yang telah diseduh dan diberi gula, harganya juga akan jauh berbeda,” katanya.

Begitu pula, sebut Kresnayana, kalai kita bandingkan  kopi yang telah diseduh tadi dengan kopi yang kita minum di kafe atau hotel bintang lima disambi menikmati pemandangan dan hiburan musik, pasti harganya akan jauh lebih mahal lagi. “Padahal produk tersebut sama yaitu bernama kopi,” cetus dosen Statistika ITS Surabaya itu.

Dari penjelasan tersebut, Kresnayana ingin mengingatkan betapa pentingnya sebuah proses produksi dan branding produk yang dihasilkan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) Kota Surabaya.

“Jika ingin menaikkan omzet dari produk yang kita hasilkan, kita harus dapat memperhatikan kualitas produk. Ketika dapat menghasilkan kualitas produk yang baik, kita harus memperhatikan tampilan kemasan. Hal itu dilakukan agar keuntungan yang kita peroleh sesuai dengan kualitasnya,” jelas Kresnayana.

Ia lalu menajutkan, untuk masuk dalam dunia usaha, pelaku usaha harus mengetahui situasi persaingan pasar yang akan kita masuki. Itu berguna untuk membantu dalam mengukur dan menetapkan harga produk yang akan dipasarkan.

“Kita jangan terlalu murah mematok harga produk kita karena bisa memicu ketidakpercayaan para pembeli. Begitu pula sebaliknya, jika kita mematok harga terlalu tinggi, maka tidak ada pembeli yang mau membeli produk kita,” terang Kresnayana.

Ia menambahkan, sebaiknya yang dilakukan pelaku usaha adalah menciptakan kepercayaan pasar lewat kualitas produk yang ditawarkan. Jika pasar sudah percaya pada produk yang dihasilkan, maka brand image atau label merek produk kita akan terbentuk dengan sendirinya.

“Jika label merek kita sudah dipercaya pembeli, yang terjadi adalah pembeli akan mencari produk kita, bukan kita yang mencari para pembeli,” tutur dia.

Kresnayana mengatakan, untuk menunjukkan kualitas produk yang kita jual, kita harus dapat menonjolkan keunggulan dan manfaat dari produk tersebut. “Contohnya, produk yang kita hasilkan lebih sehat, lebih murni, dan lebih praktis,” paparnya.

Setelah berhasil menunjukkan kualitas dari produk tersebut, hal lain yang harus dilakukan adalah mempermak tampilan dari produk tersebut. Kresnayana menuturkan, jika desain yang bagus dapat mewakili kualitas dan keunggulan dari produk tersebut.

“Perlu diperhatikan, desain produk meliputi desain kemasan, desain merk, dan desain cara penyajiannya,” katanya.

Ke depan, dia berharap agar para pelaku UKM di Surabaya tidak hanya memasarkan produknya di pasar tradisional saja. “Kami ingin penggiat UKM dapat masuk kedalam kompetisi pasar premiun, dalam arti pasar dengan jumlah market yang besar, seperti supermarket, mal, dan hotel-hotel berbintang yang ada di Kota Surabaya,”pungkasnya.

Pahlawan Ekonomi adalah program yang didukung penuh Pemerintah Kota Surabaya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Sampoerna, Pegadaian, Bank Mega, Bukalapak.com dan berbagai pihak terkait. Program yang dihelat mulai tahun 2010 ini bertujuan untuk mempersiapkan sumberdaya manusia masyarakat Surabaya dan memberdayakan ekonomi keluarga. (wh)