Ini Tujuh Komoditas di Jatim Penyebab Deflasi

Ini Tujuh Komoditas di Jatim Penyebab Deflasi
foto:beritasatu

Deflasi yang terjadi di Jawa Timur tidak terlepas dari meningkatnya produktivitas sejumlah komoditas. Dari data yang dibeberkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, sedikitnya ada tujuh komoditas di Jatim yang mengalami surplus dan defisit pada tahun ini.

Kepala BPS Jawa Timur M. Sairi Hasbullah mengatakan bahwa ketujuh komoditas yang mengalami surplus dan defisit itu adalah Padi, Jagung, Kedelai, Kacang Tanh, Kacang Hijau, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar. Meski sempat mengalami lonjakan harga tapi justru kata Sairi produksi padi di Jawa Timur meiningkat 2,9 persen atau mencapai 12,3 juta ton gabah kering.

“Pada awal tahun memang ada kenaikan harga beras, tapi justru produktivitas padi di Jawa Timur mengalami surplus di awal tahun. Dibandingkan dengan produksi 2013 lalu, tahun ini justru lebih baik,” katanya saat ditemui di Kantor BPS Jatim, akhir pekan lalu.

Justru sebaliknya, produksi jagung kata Sairi mengalami penurunan meski harganya tidak mengalami kenaikan. Dibandingkan dengan produksii pada 2013 lalu, produksi jagung turun 0,41 persen atau hanya bisa memproduksi 5,7 juta ton angka sementara (Asem). “Ada penurunan 23,5 ribu ton pada bulan ini,” katanya.

Yang paling rawan kata Sairi adalah komoditas Kedelai yang hanya mampu memproduksi 355 ribu ton saja, atau hanya mampu menyumbang 30 persen dari jumlah total kebutuhan kedelai di Jawa Timur. Dibanding dengan tahun 2013, produksi kedelai tahun ini mengalami penurunan 19,4 ribu ton atau mencapai 9,3 persen.

“Selebihnya kita masih mengandalkan kedelai impor. Jadi sebenarnya untuk di bulan-bulan ini kedelai sedang rawan naik. Terutama bagi produsen tahu dan tempe, karena sebentar lagi harga kedelai diperkirakan bisa naik sewaktu-waktu,” bebernya.

Sedangkan untuk kebutuhan lain seperti kacang tanah, kacang hiijau, ubi kayu, dan ubi jalar terpantau kondusif. Rata-rata setiap jenis komoditas mengalami peningkatan hingga 20 persen atau penurunan sebesar 9 persen. Namun dipastikan ini tidak akan berdampak banyak kepada masyarakat mengingat komoditas tersebut bukan bahan pokok. (wh)