Ini Testimoni Bocah-Bocah yang Hidup di Lokalisasi Surabaya

 

Ini Testimoni Bocah-Bocah yang Hidup di Lokalisasi Surabaya

Program Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menutup sejumlah prostitusi di Surabaya bukan tanpa alasan. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bahkan menemukan bocah-bocah yang sudah kecanduan narkoba lantaran hidup di dunia prostitusi.

Satu di antaranya sebut saja Melati. Gadis 13 tahun itu kedapatan telah menjadi pecandu narkoba setelah pemkot melakukan pendataan warga terdampak di kawasan eks lokalisasi Sememi, Moroseneng. “Awalnya dipaksa oleh bos kafe untuk ikut mengonsumsi narkoba,” aku bocah yang terlihat dewasa sebelum waktunya tersebut, Senin (4/8/2014).

Melati menceritakan, dirinya terpaksa mengikuti jejak orang tuanya menjadi operator kafe lantaran membantu kebutuhan ekonomi keluarga. Saat menjadi operator kafe itulah, dirinya mulai mengenal narkoba.

Saat ditawari untuk mencoba narkoba pertama kalinya, Melati mengaku menolak, tapi lantaran terus dipaksa akhirnya ia mengonsumsi barang haram tersebut. “Saya sebenernya gak pengen kerja di situ (cafe). Tapi dipaksa pemiliknya untuk bekerja,” ungkapnya.

Bahkan diakuinya, untuk memuluskan tabiat bos kafe memperkerjakannya, Melati dibuatkan KTP palsu agar tidak ketahuan bahwa dirinya belum cukup umur. “Dia (bos cafe) sudah dipenjara sekarang,” ujarnya.

Melati mengatakan, dirinya tidak sendirian. Di kafe tempat dulu bekerja juga masih banyak anak di bawah umur yang kedapatan mengonsumsi narkoba dan menjadi operator kafe. Ia melihat lebih dari 10 teman sebayanya yang bernasib sama di kawasan Moroseneng tersebut.

“Teman-teman saya di sana ada sekitar 10 anak. Usianya rata-rata masih 16 tahun,” katanya.

Hal yang mengenaskan juga dialami Mawar (8) yang sudah pandai bersolek di saat usianya belum genap 10 tahun. Anak dari seorang pekerja seks komersial (PSK) itu mengaku sudah terbiasa melihat kehidupan yang biasa dijalani oleh ibunya.

Di usianya yang masih anak-anak, Mawar sudah terbiasa bergaul dengan lawan jenis yang usianya lebih tua. Dia terbiasa bersolek dan pola pikirnya sudah layaknya orang dewasa.

“Anak ini dulunya ditemukan polisi ketika dia terlantar di Pasar Benowo pas malam hari. Oleh pihak polisi kemudian diserahkan ke Satpol PP. Ini merupakan kasus pertama yang pernah terjadi di Surabaya,” ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Risma mengkhawatirkan bila kasus yang menimpa Mawar dan Melati tersebut merupakan fenomena gunung es. Artinya, keduanya hanya sedikit yang ketahuan. “Mereka mengalami trauma yang mendalam. Bahkan, psikolog pun ndak sanggup untuk memulihkan mereka. Traumatis itulah yang harus kita atasi,” jelas wali kota.

Sementara, Kepala Bagian Pemberdayaan Masyarakat dan keluarga Berencana (Bapemas KB) Kota Surabaya Nanis Chairani mengatakan, anak-anak yang tumbuh di kawasan lokalisasi, perilaku mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka lihat di lingkungan sekitar mereka.

“Anak-anak yang tumbuh di kawasan lokalisasi, otak mereka terbiasa merekam apa yang mereka lihat di sana. Itu yang membuat mereka ada yang ketagihan narkoba hingga overseks,” ujar Nanis. (wh)