Ini Tantangan Industri Tekstil Nasional

Ini Tantangan Industri Tekstil Nasional

Tantangan industri tekstil di Jatim saat ini cukup berat. Pasalnya, jumlah produksi perusahaan garmen masih terbatas, tidak sebanding dengan pesatnya impor tekstil berkualitas yang masuk Indonesia.

Hal itu diungkapkan Chairperson Enciety Business Consult Kresnayana Yahya dalam acara Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (22/5/2015).

“Saat ini banyak sekali perusahaan tekstil mulai dari Swiss, Italia, Jepang, hingga Jerman melakukan impor produknya di Indonesia. Mereka bahkan telah menciptakan pasar sendiri di Indonesia dan membuat pengusaha lokal semakin kalah bersaing,” kata Kresnayana.

Apalagi di Indonesia, sambung Kresnayana, kultur masyarakat sangat mendukung. Daya beli masyarakat Indonesia sangat tinggi. Terlebih saat menjelang Lebaran, dipastikan mulai dari kalangan kelas bawah hingga atas akan berbondong-bondong membeli pakaian.

“Ini yang membuat pasar tekstil luar biasa. Kalau (konsumen) ada uang pasti beli (pakaian) baru khususnya di hari raya,” katanya. “Tapi tidak sedikit masyarakat yang lebih mencari produk impor yang lebih inovatif dan terjangkau,” imbuh dosen statistika ITS itu.

Menuurt Kresnayana, masalah inovasi ini yang menjadi kendala saat ini bagi pengusaha tekstil lokal. Namun dia optimistis melihat kualitas produk tekstil Tanah Air yang lebih bagus dibanding produk impor yang diakuinya tidak memiliki ciri khas.

Sementara itu, pelaku usaha tekstil Dicky K. Galuankar dari PT. Embroitex mengatakan, produk impor memang sangat murah tapi kualitasnya tidak bagus. Itu bisa dirasakan saat sudah dibeli dan dicuci, maka akan terlihat perbedaanya. “Kalau produk dalam negerti tidak akan menyusut atau luntur,” bebernya.

Dia juga mengaku bahwa industri tekstil di Indonesia khususnya di Jawa Timur, masih terbatas. Jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. “Kalau sekarang kita lihat banyak perusahaan kecil yang baru berdiri khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta,” tuturnya.

Mereka banyak menyuplai industri tekstil di Bandung dan Jawa Tengah. Kenapa di Jawa Timur masih terbatas, padahal di Surabaya punya pelabuhan dan bandara. Terlebih tenaga kerja sangat siap dan mumpuni.

“Harusnya di Jawa Timur industri tekstil bisa dikembangkan. Kita harus memikirkan investasi jangka pendek atau jangka panjang. Banyak pengusaha yang bangkrut karena salah mengestimasi pembelian mesin dan target investasi. Untuk itu kita perlu mendorong mereka agar disiplin dan jumlahnya semakin banyak karena saat ini masih sangat terbatas,” jabarnya. (wh)