Ini Sederet Kemungkinan Penyebab Jatuhnya GermanWings

germanwings-crash-map_revised

Maskapai penerbangan murah GermanWings tengah dilanda musibahnya. Salah satu pesawatnya dengan nomor penerbangan 4U 9525 mengalami kecelakaan di Pegunungan Alpen, Prancis, saat dalam perjalanan dari Barcelona, Spanyol menuju Dusseldof, Jerman pada Selasa 24 Maret 2015 pagi.

Sejauh ini, tim pencari dan otoritas setempat telah menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Mereka mendapati serpihan kapal terbang Airbus A320 itu dalam kondisi hancur berkeping-keping.
Bersamaan itu, terungkap bahwa seluruh penumpang dan kru, yang berjumlah 150 orang, dinyatakan tak ada yang selamat.
Sementara itu, tak butuh waktu lama, tim pencari telah berhasil menemukan salah satu bagian Black Box atau Kotak Hitam yang berisi data penerbangan pesawat. Apakah kecelakaan GermanWings itu karena kesalahan teknis pesawat, pilot, atau mungkin aksi teror? Hal itu masih belum bisa dipastikan. Tapi setidaknya ada beberapa petunjuk yang bisa ditarik sementara untuk menyimpulkan penyebabnya.

Dalam kecelakaan di area yang dianggap jalur penerbangan teraman di Eropa ini, petunjuk pertama yang paling bisa diandalkan adalah bentuk dan penyebaran puing atau serpihan pesawat.

Menurut pakar keselamatan penerbangan Boeing, Todd Curtis, jika puing-puing berada berdekatan, maka GermanWings diduga kuat menghantam gunung. Tapi jika penyebaran serpihannya jauh, maka kapal terbang diyakini sudah hancur terlebih dahulu di udara. “Jika Anda melihat bagian sayap di sini, kemudian melihat bagian lainnya pada jarak sekitar 3 mil (sekitar 4,8 km), maka kecelakaan tidak terjadi di darat, tapi di udara,” jelas Curtis, seperti dimuat News.com.au, Rabu (25/3/2015).

Jika melihat kondisi pesawat, pihak Lufhansa — induk perusahaan Germanwings — memastikan kapal terbang itu dalam kondisi laik terbang. Terlebih, keluarga jenis Airbus A320 selama ini memiliki rekam jejak baik dengan skala kecelakaan 0,14 per 1 juta kali terbang.
Petinggi Lufhansa Thomas Winkelmann menegaskan pesawat tersebut telah menjalani perawatan berkala secara teratur. Meski begitu, bagi Curtis yang juga Direktur Airsafe.com Foundation, faktor teknis pesawat bisa saja terjadi. Tapi dia menekankan faktor usia pesawat GermanWings tidak menjadi acuan, tapi yang lebih penting adalah seberapa jauh pemeliharaan pesawat tersebut. “Kita tidak bisa mengesampingkan faktor teknis, misalnya adanya kegagalan pada sistem pesawat yang sudah terbang puluhan ribu jam. Dalam sejarah kecelakaan di dunia penerbangan, ada saja sesuatu yang terduga,” kata dia.

Beberapa saat sebelum kecelakaan, pilot atau kru pesawat GermanWings dikabarkan tidak sempat melakukan panggilan darurat mayday, kendati pemandu lalu lintas udara menyatakan pesawat benar-benar mengalami kesulitan sebelum hilang kontak. “Dari sejumlah fakta tersebut, pesawat celaka karena masalah teknis, non-teknis, atau reaksi yang tidak tepat atau buruk dari pilot saat dilanda krisis,” ujar Curtis, mengaca pada insiden Air France 447 pada 1 Juni 2009 silam.

Teori lainnya, pengamat penerbangan itu juga tidak mengesampingkan kemungkinan adanya ulah teroris, apabila ternyata diketahui pesawat hancur di udara, seperti yang terjadi pada Malaysia Airlines MH17 pada Juli 2014 lalu. (lp6)