Ini Saran UEFA untuk Sepakbola Indonesia

 

Ini Saran UEFA untuk Sepakbola Indonesia

Pengembangan sepakbola usia dini menjadi salah satu bahan diskusi kerja sama UEFA dengan PSSI. Pemain-pemain muda menjadi fondasi untuk tim nasional yang kuat di masa depan.

Sayangnya di Indonesia urusan ini dinilai punya banyak tantangan. Head of Stakeholder Affair UEFA Alex Phillips menyampaikan pandangannya dalam konferensi pers di Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (21/8/2014). “Kami juga diskusi tentang grassroot dengan PSSI. Pengembangan grassroot harus off-field dan on-field (di luar dan di dalam lapangan). Ini tak cuma bicara tentang teknik, tapi juga pemasaran, keuangan, dan lain-lain. Tidak mungkin cuma membahas salah satu saja,” kata Alex.

Masalah geografi, yang mana Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai lebih dari 5.000 kilometer menjadi kendala yang relevan. “Masalah geografi sekali lagi menjadi relevan dalam pengembangan usia dini. Di Belanda, negaranya kecil dan datar di mana orang-orang bisa pergi ke mana saja dalam waktu satu sampai dua jam. Mudah mengorganisasi akademi dan sekolah sepakbola. Di Indonesia kasusnya tidak sesederhana itu karena negara kalian sangat luas,” Alex menjelaskan.

Alex mengaku hal tersebut akan didiskusikan dengan PSSI untuk mencari jalan keluarnya untuk masa mendatang.

Kerja sama dengan UEFA dipandang akan bermanfaat bagi sepak bola Indonesia. Salah satunya bagaimana cara mengelola klub yang baik dan benar. Pasalnya selama ini banyak klub yang yang salah kelola sehingga para pemain telat mendapatkan gaji. Belum lagi ada kasus meninggalnya pemain asing atau pemain yang terpaksa berjualan jus akibat enam bulan tak digaji hingga akhirnya dideportasi.

“UEFA mungkin terkenal sebagai organisasi yang bagus jika melihat Liga Champions dan bagaiman kami ikut membentuk industri sepakbola. Tapi sebetulnya kami juga pernah salah kelola di masa lalu. Salah satunya tragedi di tahun 1985 (tragedi Heysel) yang menewaskan banyak orang. Itu kesalahan operasional yang berat,” tuturnya.

“Tapi dari sana kami belajar. PSSI sebagai organisasi pasti mengalami masa-masa sulit semacam itu. Kami sama-sama bergerak ke arah yang lebih baik. Bedanya cuma kapan waktu memulainya,” jelas Alex. (bst/ram)